Mawas Diri

Mazmur 106:1 Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
106:2 Siapakah yang dapat memberitahukan keperkasaan TUHAN, memperdengarkan segala pujian kepada-Nya?
106:3 Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!
106:4 Ingatlah aku, ya TUHAN, demi kemurahan terhadap umat-Mu, perhatikanlah aku, demi keselamatan dari pada-Mu,
106:5 supaya aku melihat kebaikan pada orang-orang pilihan-Mu, supaya aku bersukacita dalam sukacita umat-Mu, dan supaya aku bermegah bersama-sama milik-Mu sendiri.

 

Matius 9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.
9:10 Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
9:11 Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
9:12 Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
9:13 Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Renungan Singkat :

Dalam hidup manusia, kecenderungan ini selalu muncul yaitu merasa tidak bersalah atau merasa yang benar bahkan yang paling benar. Kenyataannya bahwa semua orang di dunia tanpa kecuali sudah pasti ada kesalahan. Kesadaran akan kesalahan semestinya selalu muncul, kalau ingat bahwa dirinya masih manusia bukan malaikat.

Penilaian akan hidup sendiri (mawas diri) merupakan hal yang amat sulit. Manusia diberikan anugerah akal budi untuk berfikir menjadi cerdas dan jangan lupa juga menggunakan hati untuk merasakan bukan hanya merasa. Karena akal budi itulah manusia diberikan derajat lebih untuk mengelola kehidupan dan bukan untuk merusaknya. Namun manusia banyak menggunakan akalnya dan mengabaikan hati nuraninya, akibatnya menjadi individu yang egois, sombong, dan tidak mampu merasakan apa yang dirasakan oleh sesamanya.

Dalam banyak peristiwa hidup ini, manusia yang menjadi aktor utama dalam hal kerusakan alam dan pemusnahan beberapa unsur kehidupan ciptaan. Manusia menjadi serakah dan tidak mampu menahan keinginannya untuk memiliki, menguasai, dan menindas.

Harapannya kedepan kedua unsur anugerah terhebat yang diberikan Tuhan kepada manusia akal dan budi ada keseimbangan dalam mengatualisasikannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: