DOGMA MARIA

Dogma adalah ajaran resmi Gereja yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan Paus. Dogma tentang Maria timbul sebagai rumusan kesaksian Gereja tentang Kristus yang disebabkan oleh aneka faktor sejarah. Hingga saat ini telah dirumuskan 4 dogma Maria. Keempat dogma tentang Maria, yang pada intinya menguraikan Wahyu tentang Kristus, bukan rumusan teoritis, melainkan jawaban atas pujian atas perbuatan-perbuatan besar Allah (Lukas 1:49).
Dalam perkembangan Gereja selanjutnya tidak tertutup kemungkinan adanya dogma Maria kelima dan seterusnya.

Dogma 1 : MARIA BUNDA ALLAH
Ditetapkan dalam Konsili Efesus tahun 431 di bawah pemerintahan Paus ke-43, St. Celestinus I (10 September 422 – 27 Juli 432). Hingga kini Gereja merayakan pesta Maria Bunda Allah pada setiap tanggal 1 Januari.
Santa Perawan Maria adalah Ibunda Yesus. Bagi orang Katolik, Yesus yang adalah Kristus, merupakan Sabda Allah yang hidup, yang hadir di dunia dan menyejarah. Yesus adalah pribadi kedua Tritunggal (Allah Putera) yang menjelma menjadi manusia, berarti Allah sendiri yang mengambil wujud seorang manusia. Itulah iman Katolik akan Yesus Kristus.
Dalam hal itulah maka Santa Maria kita sebut sebagai ‘Bunda Allah’, bukan karena ia melahirkan ke-Allah-an Yesus, tetapi karena Allah berkenan memilih Maria secara manusiawi sebagai ibu Yesus, Putera Tunggal Allah itu. Jadi karena melalui Perawan Marialah kemanusiaan Kristus (Putera) terlaksana seutuhnya.

‘Maria Bunda Allah’ adalah gelar tertinggi yang diterima oleh manusia, dan dianugerahkan kepada Santa Perawan Maria. Gelar tersebut adalah tertinggi, karena tidak dapat dibandingkan dengan anugerah-anugerah lainnya, dalam bentuk apa pun dan kepada siapa pun. Itu juga merupakan kemuliaan yang tak terhingga, karena dengan anugerah itu Maria telah menyentuh batas ke-Allah-an. Gereja Katolik menghormatinya sebagai anggota Gereja yang maha unggul. (LG 53)

Dogma 2 : MARIA TETAP PERAWAN
Ditetapkan pada tahun 649 dalam Sinode Lateran di bawah kepemimpinan Paus ke-74, St. Martinus I (5 Juli 649 – 16 September 655).

Arti keperawanan Maria :
Sebelum Melahirkan (ante partum):
Ajaran jelas Alkitab dan Tradisi Gereja sejak awal, dengan Kristus semuanya menjadi baru; Roh Allah masuk dalam dunia yang dikuasai dosa itu dengan cara-Nya sendiri.
Waktu Melahirkan (in partu):
Kelahirkan Kristus yang menebus umat manusia dari segala dosanya berlangsung lepas dari akibat-akibat dosa, yaitu bahwa kelahiran disertai ‘dengan kesakitan’ (Kejadian 3:16), pra tanda kematian yang menjadi nasib segala yang dilahirkan itu. Maka Maria tetap segar setelah melahirkan Yesus dan dapat merawat-Nya sendiri. Ia disebut “pintu surga yang bahagia” dalam madah Ave Maris Stella, abad ke-9.

Sesudah Melahirkan (post partum) :
Dengan menyatakan ‘ya’ pada pesan Allah, Maria sebagai ‘hamba Tuhan’ mengikat diri seutuhnya dan tanpa syarat pada pengutusan Puteranya. Maria mengkhususkan diri jiwa raganya utnuk pelayanan pada Allah dan umat-Nya, inilah kemurnian eksistensial, yang tandanya adalah ‘keperawanan tetap’.

Maka keperawanan Maria sama sekali tidak dibatalkan dengan kelahiran Kristus Yesus dari rahimnya. Justru yang terjadi sebaliknya. Karena Yesus lahir dari rahimnya, sedang Kristus sendiri tidak mempunyai seorang bapak (biologis), maka Maria tetap perawan. Dalam hal ini Allah yang melampaui semua perhitungan akal manusiawi telah bertindak sebagai jaminan keperawanan Santa Maria.

Dogma 3 : MARIA DIKANDUNG TANPA NODA
Ditetapkan pada 8 Desember 1854 dalam Bulla Ineffabilis Deus oleh Paus ke-255, Pius IX (21 Juni 1846 – 7 Februari 1878). Hingga kini Pesta Maria Dikandung Tanpa Noda dirayakan setiap tanggal 8 Desember.
Dogma ini mau menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung dalam rahim ibunya, Santa Anna, tanpa dosa asal yang merupakan dosa warisan Adam dan Hawa. Bunda Maria adalah satu-satunya manusia yang dianugerahi karunia ini. Bunda Maria memperoleh keistimewaan ini karena ia akan menjadi bejana yang kudus dimana Yesus, Putera Allah, akan masuk ke dunia melaluinya.
Sejak dari awal mula kehadirannya, Bunda Maria senantiasa kudus dan suci — betul-betul “penuh rahmat”. Kita menggunakan kata-kata ini ketika kita menyapa Maria dalam Doa Salam Maria, tetapi banyak orang yang tidak meluangkan waktu untuk memikirkan apa arti sebenarnya kata-kata ini. Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Bunda Maria untuk menyampaikan kabar sukacita, dialah yang pertama kali menyapa Maria dengan gelarnya yang penting ini, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Lukas 1:28)
Kata-kata “penuh rahmat” ketika diterjemahkan dari teks bahasa Yunani, sesungguhnya digunakan sebagai nama yang tepat untuk menyapa Maria. Istilah Yunani yang digunakan menunjukkan bahwa Maria dalam keadaan penuh ramat atau dalam keadaan rahmat yang sempurna sejak dari ia dikandung sampai sepanjang hayatnya di dunia. Bukankah masuk akal jika Tuhan menghendaki suatu bejana yang kudus, yang tidak bernoda dosa untuk mengandung Putera-Nya yang Tunggal? Bagaimana pun juga, Yesus, ketika hidup di dalam rahim Maria, tumbuh dan berkembang, sama seperti bayi-bayi lainnya tumbuh dan berkembang dalam rahim ibu mereka masing-masing. Ia menerima darah Maria dan menerima makanan untuk pertumbuhan-Nya dari tubuh Maria sendiri.

Dasar Biblis:
Lukas 1:26-38 –> Kabar/salam malaikat (Yang dikaruniai, Yang penuh rahmat, Tuhan menyertai engkau)
“Penuh ramat” (sepenuh-penuhnya/sepenuh mungkin):
a. Maria mempunyai segala rahmat yang sepenuhnya diberi Allah.
b. Maria mempunyai rahmat dalam ukuran yang paling lengkap dan menyeluruh.
c. Mari tidak berdosa, bahkan dosa asalpun tidak.
d. Keutamaan yang maha sempurna pun ada padanyan.
e. Sejak dalam kandungan pun tidak ada dosa.
f. Maria yang penuh dengan rahmat, tidak ada dosa,

Dokumen Gereja dan ajaran para Paus:
a. BULLA PAUS PIUS IX tanggal 8 Desember 1854: Dogma Santa Maria dikandung tanpa dosa
dalam –> Ineffabilis Deus.
b. PAUS PIUS XII dalam –> Munificentissimus Deus.
c. PAUS YOHANNES PAULUS II dalam –> Redemptoris Mater.

Ketiga dokumen di atas semua menjelaskan tentang Lukas 1 : 28, yang penuh rahmat/yang dikaruniai – sebagai yang dikandung tanpa dosa.

d. Dokumen KONSILI VATIKAN II — LUMEN GENTIUM No. 56: “Maria Perawan Nazareth, yang dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa sejak saat pertama ia dikandung dan mendapat salam penuh rahmat dari malaikat…” Pembawa kabar atas perintah Allah.

Dua metode pendekatan LUMEN GENTIUM — Bab VIII:
1. Pendekatan Maksimalis (Kristotipikal)
Apa saja yang terjadi pada anaknya Yesus, atau yang menjadi fungsi dan peran Yesus, atau yang menjadi tanda-gelar-jasa anaknya Yesus dari Nazareth: juga terjadi dan diberi pada Maria.

YESUS MARIA
a. Naik ke surga (Matius dan Kisah Para Rasul) a. Diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya
b. Pengantara (1 Timotius 2 : 5-6) b. Mediatrix (LG+BSB)
c. Raja alam semesta c. Ratu (7 Oktober)
d. Tidak berdosa d. Tak Bernoda (8 Desember)
e. Adam Baru e. Hawa Baru
f. Redemptor (Penebus) f. Co-Redemptrix

2. Pendekatan Minimalis (Ekklesiatipikal)
Berdasarkan pada dan dapat dibuktikan dalam Kitab Suci, dan Maria masuk dalam Gereja. Misalnya Maria dalam misteri penyelamatan, hamba TUhan, model/pola Gereja, ibu Gereja, dan lain-lain.

Dogma 4 : MARIA DIANGKAT KE SURGA
Ditetapkan pada 1 November 1950 dalam Konstitusi Apostolis Munificentissimus Deus oleh Paus ke-260, Pius XII (2 Maret 1939 – 9 Oktober 1958). Hingga kini Pesta Maria diangkat ke Surga dirayakan setiap tanggal 15 Agustus.
Dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dirayakan untuk menghormati suatu kebenaran, yaitu bahwa setelah akhir hidupnya di dunia, Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Dalam Kitab Kejadian 5:24 dan 2 Raja-Raja 2:1-12 Kitab Suci menceritakan bagaimana tubuh Henokh dan Elia diangkat ke surga. Jadi hal diangkat ke surga bukanlah hal baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gereja tidak pernah menegaskan secara resmi apakah Bunda Maria benar-benar meninggal secara jasmani, meskipun banyak ahli yang beranggapan demikian.
“Yakinlah anakku, bahwa tubuhku ini, yang telah menjadi bejana bagi Sabda yang hidup, telah dihindarkan dari kerusakan makam. Yakinlah juga, bahwa tiga hari setelah kematianku, tubuhku itu dibawa oleh sayap-sayap malaikat menuju tangan kanan Putera Allah, dimana aku memerintah sebagai ratu.” Demikian pesan Bunda Maria dalam suatu penampakan kepada St. Antonius dari Padua.
Dalam suatu meditasi mingguan, Paus Yohannes Paulus II menyatakan bahwa “Bundan tidak lebih tinggi dari Putera”. Pernyataannya itu memperkuat keyakinan bahwa Maria mengalami kematian jasmani. Karena Yesus sendiri harus wafat, maka logis sekali jika kita beranggapan bahwa Bunda Maria juga wafat secara fisik sebelum ia diangkat ke surga. Karena kita yakin bahwa Bunda Maria dikandung tanpa dosa dan tetap “penuh rahmat” sepanjang hidupnya di dunia, logis juga jika kita beranggapan bahwa tubuh jasmaninya dihindarkan dari kerusakan setelah kematiannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: