Kasih Karunia Tuhan

Kis 20:28Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.

Kis 20:29Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu.

Kis 20:30Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.

Kis 20:31Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.

Kis 20:32Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.

Kis 20:33Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga.

Kis 20:34Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.

Kis 20:35Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Kis 20:36Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua.

Kis 20:37Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia.

Kis 20:38Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal.

“Apa yang telah dikorbankan dengan bercucuran airmata bahkan darah, akan mendapatkan kasih karunia yang datang dari Tuhan sendiri”

 

Iklan

Pesan Bapa Suci untuk Hari Komsos Sedunia ke-47, 12 Mei 2013

Jejaring Sosial: Pintu  kepada Kebenaran dan Iman, Ruang Baru untuk Evangelisasi
 

Menjelang Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun 2013 ,saya ingin menyampaikan beberapa permenungan mengenai suatu kenyataan  yang  semakin penting tentang cara  manusia sezaman berkomunikasi di antara mereka. Saya ingin mencermati perkembangan jejaring sosial digital yang membantu menciptakan “agora” baru, suatu alun-alun publik tempat manusia berbagi gagasan, informasi dan pendapat, dan yang dalamnya  relasi-relasi dan bentuk-bentuk komunitas baru dapat terwujud.

Ruang-ruang tersebut – bila dimanfaatkan secara  bijak dan berimbang- membantu memajukan berbagai bentuk dialog dan debat yang, bila dilakukan dengan penuh hormat dan memerhatikan privasi, bertanggungjawab dan jujur, dapat memperkuat ikatan kesatuan di antara individu-individu dan memajukan kerukunan keluarga manusiawi secara berdaya-guna. Pertukaran informasi dapat menjadi komunikasi yang benar, relasi-relasi dapat mematangkan pertemanan, koneksi-koneksi dapat mempermudah  persekutuan.  Bila jejaring sosia terpanggil untuk mewujudkan potensi besar ini, orang-orang yang  terlibat di dalamnya harus berupaya menjadi otentik , karena di dalam ruang itu,  orang tidak hanya berbagi gagasan dan informasi, tetapi pada akhirnya orang mengkomunikasikan dirinya sendiri.
Perkembangan jejaring sosial menuntut komitmen:  orang melibatkan diri di dalamnya untuk membangun relasi dan menjalin persahabatan, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan  mencari hiburan, tetapi juga dalam menemukan dorongan intelektual serta berbagi pengetahuan dan keterampilan. Jejaring sosial semakin menjadi bagian dari tatanan masyarakat sejauh menyatukan orang dengan berpijak pada kebutuhan dasar. Jejaring sosial dengan demikian terpelihara oleh aspirasi yang  tertanam dalam hati manusia.
Budaya jejaring sosial dan perubahan dalam sarana  dan gaya berkomunikasi membawa tantangan bagi mereka yang ingin berbicara tentang kebenaran dan nilai. Seringkali, sama halnya dengan sarana-sarana komunikasi sosial yang lain, makna dan efektifitas berbagai bentuk ekspresi nampaknya lebih ditentukan oleh popularitasnya ketimbang kepentingan hakiki dan nilainya. Pada gilirannya, popularitas seringkali lebih melekat pada ketenaran ataupun strategi persuasi  daripada  logika argumentasi. Kadangkala suara lembut dari pikiran dikalahkan oleh membludaknya informasi yang berlebihan dan gagal menarik perhatian pada apa yang disampaikan kepada orang yang mengungkapkan diri secara lebih persuasif. Dengan demikian, media sosial membutuhkan  komitmen dari semua orang yang menyadari nilai dialog, debat rasional dan argumentasi logis dari orang-orang yang berusaha keras membudidayakan bentuk-bentuk wacana dan pengungkapan  yang menggerakkan aspirasi luhur dari orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi. Dialog dan debat dapat juga berkembang dan bertumbuh ketika kita berbicara  dengan dan sungguh-sungguh  menghargai orang-orang yang gagasan-gagasannya berbeda dengan  kita. “Mengingat kenyataan keragaman budaya, perlulah memastikan bahwa  manusia  bukan saja mengakui keberadaan budaya orang lain tetapi juga bercita-cita diperkaya olehnya dan menghargai segala yang baik, benar dan indah”( Pidato pada Pertemuan dengan Dunia Budaya, Belem, Lisabon, 12 Mei 2010).
Tantangan yang dihadapi oleh jejaring sosial adalah bagaimana benar-benar menjadi inklusif: dengan demikian mereka memperoleh manfaat dari peran serta  penuh dari orang-orang beriman yang ingin berbagi amanat Yesus dan nilai martabat manusia yang dikemukakan melalui pengajaran-Nya. Kaum beriman semakin menyadari bahwa  kalau Kabar Baik tidak diperkenalkan juga di dalam dunia digital, ia akan hilang dalam pengalaman banyak orang yang menganggap ruang eksistensial ini penting. Lingkungan digital bukanlah sebuah dunia paralel  atau murni virtual, tetapi merupakan bagian dari pengalaman keseharian banyak orang teristimewa kaum muda. Jejaring sosial adalah hasil  interaksi manusia akan tetapi pada gilirannya, ia memberikan bentuk baru terhadap dinamika komunikasi yang membangun relasi: oleh karena itu pemahaman yang mendalam tentang lingkungan ini merupakan prasyarat untuk suatu kehadiran yang bermakna.
Kemampuan untuk menggunakan bahasa baru dituntut,  bukan terutama untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup sezaman, tetapi justru untuk memampukan kekayaan tak terbatas dari Injil menemukan bentuk-bentuk pengungkapan yang mampu menjangkau pikiran dan hati semua orang.  Di dalam lingkungan digital, perkataan tertulis sering disertai dengan gambar dan suara. Komunikasi yang efektif seperti yang terungkap dalam perumpamaan Yesus memerlukan pelibatan imaginasi dan kepekaan emosional  mereka yang ingin kita ajak untuk berjumpa dengan misteri kasih Allah.  Disamping itu kita mengetahui bahwa tradisi Kristiani selalu kaya akan tanda dan simbol: Saya berpikir, misalnya, salib, ikon, Patung Perawan Maria, kandang natal, jendela kaca berwarna-warni dan lukisan-lukisan di dalam gereja kita. Suatu bagian bernilai dari khazanah artistik umat manusia telah diciptakan oleh para seniman  dan musisi yang berupaya untuk mengungkapkan kebenaran iman.
Dalam jejaring sosial,  orang beriman menunjukkan kesejatiannya dengan berbagi sumber terdalam dari harapan dan kegembiraan mereka: iman kepada Allah pengasih dan penyayang yang terungkap dalam Kristus Yesus.  Wujud berbagi ini tidak hanya terdiri dari ungkapan iman yang eksplisit, tetapi juga dalam kesaksian mereka, dalam cara  mereka mengkomnikasikan “pilihan, preferensi, penilaian yang sungguh sesuai dengan Injil, bahkan bila tidak disampaikan secara ekspisit” (Pesan untuk Hari Komunikasi Sedunia 2011). Suatu cara yang secara khusus bermakna dengan memberikan kesaksian  serupa terjadi melalui kerelaan untuk mengorbankan diri kepada orang lain seraya menanggapi pertanyaan dan keraguan  mereka dengan sabar dan penuh hormat tatkala mereka mencari  kebenaran dan makna eksistensi manusia. Dialog yang berkembang dalam jejaring sosial tentang iman dan kepercayaan menegaskan penting dan relevannya agama di dalam debat publik dan dalam kehidupan masyarakat. Bagi mereka yang telah menerima  karunia iman dengan hati yang terbuka, jawaban yang paling radikal akan pertanyaan manusia tentang kasih, kebenaran dan makna hidup- pertanyaan – pertanyan serupa yang tentu tidak absen dari jejaring sosial – ditemukan dalam pribadi Yesus Kristus. Wajar  bahwa mereka yang memiliki iman  ingin berbagi dengan orang yang mereka jumpai dalam forum digital dengan rasa hormat dan bijaksana. Namun pada akhirnya, jika upaya kita untuk berbagi Injil menghasilkan buah yang baik,  hal itu selalu dikarenakan oleh kekuatan sabda Allah itu sendiri yang menyentuh hati banyak orang mendahului segala usaha dari pihak kita. Percaya pada kekuatan karya Allah harus selalu lebih besar daripada kerpecayaan apa saja yang kita letakan pada  sarana-sarana manusia.  Dalam ruang lingkup digital, juga, dimana suara yang tajam dan memecahbelah dibesar-besarkan  dan  dimana sensasionalisme menang,  kita diundang untuk berlaku arif, penuh kehati-hatian. Dalam hal ini hendaklah kita ingat bahwa Eliyah mengenal suara Allah tidak dalam angin yang besar dan kuat, tidak melalui gempa bumi dan api tetapi dalam hembusan angin  sepoi-sepoi” (1 Raj 19:11-12). Kita perlu percaya bahwa  kerinduan mendasar manusia untuk mengasihi dan dikasihi  dan untuk menemukan makna dan kebenaran -sebuah kerinduan yang Allah sendiri tanamkan dalam hati setiap laki-laki dan perempuan-  menetap di zaman kita ini,   selalu dan setidak-tidaknya terbuka kepada apa yang Beato Kardinal Newmann sebut ‘ cahaya ramah’ dari iman.
Jejaring sosial, dengan menjadi sarana  Evangelisasi dapat juga menjadi faktor dalam pembangunan manusia. Sebagai contoh, dalam konteks geografis dan budaya dimana orang Kristiani merasa terisolasi,  jejaring sosial dapat memperkuat  rasa kesatuan nyata dengan komunitas kaum beriman di seluruh dunia. Jejaring sosial mempermudah orang berbagi sumber-sumber rohani dan liturgi, menolong orang untuk berdoa dengan perasaan kedekatan  bersama mereka yang mengaku iman yang sama. Suatu keterlibatan yang sejati dan interaktif dengan pertanyaan dan keraguan dari mereka yang berada  jauh dari iman seharusnya membuat kita merasa perlu untuk memelihara iman kita  melalui doa dan permenungan, iman akan Allah serta amal kasih kita: ” Walaupun saya berbicara dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi apabila aku tidak mempunyai kasih, aku adalah gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing”. (1 Kor 13:1)
Di dalam dunia digital terdapat jejaring-jejaring sosial yang memberikan peluang-peluang sezaman untuk berdoa, meditasi, dan berbagi firman Allah. Akan tetapi jejaring sosial itu dapat juga membuka pintu terhadap dimensi lain dari iman. Banyak orang benar-benar menemukan, tepatnya berkat kontak awalnya di internet, pentingnya pertemuan langsung, pengalaman komunitas-komunitas dan  bahkan peziarahan, unsur-unsur yang  senantiasa penting dalam perjalanan iman. Dalam upaya untuk membuat Injil hadir dalam dunia digital, kita dapat mengundang orang untuk datang bersama-sama untuk berdoa dan perayaan liturgi di tempat-tempat tertentu seperti gereja dan kapel. Seharusnya tidak  kekurang kobersamaan atau kesatuan dalam pengungkapan iman kita dan dalam memberikan kesaksian tentang Injil di dalam realitas apa saja dimana kita hidup entah itu fisik atau digital. Kita  kita berada bersama orang lain, selalu dan dengan cara apapun, kita dipanggil untuk memperkenalkan kasih Allah hingga ujung  bumi.
Saya berdoa agar Roh Allah mendampingi dan senantiasa menerangi kamu, dan dengan seggenap hati saya memberkati kamu sekalian, agar kamu benar-benar mampu menjadi bentara-bentara  dan saksi-saksi Injil.” Pergilah ke seluruh dunia, beritakan Injil kepada segala mahkluk” (Mrk 16:15)
 
Vatikan, 24 Januari 2013
Pesta Santo Frasiskus de Sales
BENEDICTUS XVI

DOGMA MARIA

Dogma adalah ajaran resmi Gereja yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan Paus. Dogma tentang Maria timbul sebagai rumusan kesaksian Gereja tentang Kristus yang disebabkan oleh aneka faktor sejarah. Hingga saat ini telah dirumuskan 4 dogma Maria. Keempat dogma tentang Maria, yang pada intinya menguraikan Wahyu tentang Kristus, bukan rumusan teoritis, melainkan jawaban atas pujian atas perbuatan-perbuatan besar Allah (Lukas 1:49).
Dalam perkembangan Gereja selanjutnya tidak tertutup kemungkinan adanya dogma Maria kelima dan seterusnya.

Dogma 1 : MARIA BUNDA ALLAH
Ditetapkan dalam Konsili Efesus tahun 431 di bawah pemerintahan Paus ke-43, St. Celestinus I (10 September 422 – 27 Juli 432). Hingga kini Gereja merayakan pesta Maria Bunda Allah pada setiap tanggal 1 Januari.
Santa Perawan Maria adalah Ibunda Yesus. Bagi orang Katolik, Yesus yang adalah Kristus, merupakan Sabda Allah yang hidup, yang hadir di dunia dan menyejarah. Yesus adalah pribadi kedua Tritunggal (Allah Putera) yang menjelma menjadi manusia, berarti Allah sendiri yang mengambil wujud seorang manusia. Itulah iman Katolik akan Yesus Kristus.
Dalam hal itulah maka Santa Maria kita sebut sebagai ‘Bunda Allah’, bukan karena ia melahirkan ke-Allah-an Yesus, tetapi karena Allah berkenan memilih Maria secara manusiawi sebagai ibu Yesus, Putera Tunggal Allah itu. Jadi karena melalui Perawan Marialah kemanusiaan Kristus (Putera) terlaksana seutuhnya.

‘Maria Bunda Allah’ adalah gelar tertinggi yang diterima oleh manusia, dan dianugerahkan kepada Santa Perawan Maria. Gelar tersebut adalah tertinggi, karena tidak dapat dibandingkan dengan anugerah-anugerah lainnya, dalam bentuk apa pun dan kepada siapa pun. Itu juga merupakan kemuliaan yang tak terhingga, karena dengan anugerah itu Maria telah menyentuh batas ke-Allah-an. Gereja Katolik menghormatinya sebagai anggota Gereja yang maha unggul. (LG 53)

Dogma 2 : MARIA TETAP PERAWAN
Ditetapkan pada tahun 649 dalam Sinode Lateran di bawah kepemimpinan Paus ke-74, St. Martinus I (5 Juli 649 – 16 September 655).

Arti keperawanan Maria :
Sebelum Melahirkan (ante partum):
Ajaran jelas Alkitab dan Tradisi Gereja sejak awal, dengan Kristus semuanya menjadi baru; Roh Allah masuk dalam dunia yang dikuasai dosa itu dengan cara-Nya sendiri.
Waktu Melahirkan (in partu):
Kelahirkan Kristus yang menebus umat manusia dari segala dosanya berlangsung lepas dari akibat-akibat dosa, yaitu bahwa kelahiran disertai ‘dengan kesakitan’ (Kejadian 3:16), pra tanda kematian yang menjadi nasib segala yang dilahirkan itu. Maka Maria tetap segar setelah melahirkan Yesus dan dapat merawat-Nya sendiri. Ia disebut “pintu surga yang bahagia” dalam madah Ave Maris Stella, abad ke-9.

Sesudah Melahirkan (post partum) :
Dengan menyatakan ‘ya’ pada pesan Allah, Maria sebagai ‘hamba Tuhan’ mengikat diri seutuhnya dan tanpa syarat pada pengutusan Puteranya. Maria mengkhususkan diri jiwa raganya utnuk pelayanan pada Allah dan umat-Nya, inilah kemurnian eksistensial, yang tandanya adalah ‘keperawanan tetap’.

Maka keperawanan Maria sama sekali tidak dibatalkan dengan kelahiran Kristus Yesus dari rahimnya. Justru yang terjadi sebaliknya. Karena Yesus lahir dari rahimnya, sedang Kristus sendiri tidak mempunyai seorang bapak (biologis), maka Maria tetap perawan. Dalam hal ini Allah yang melampaui semua perhitungan akal manusiawi telah bertindak sebagai jaminan keperawanan Santa Maria.

Dogma 3 : MARIA DIKANDUNG TANPA NODA
Ditetapkan pada 8 Desember 1854 dalam Bulla Ineffabilis Deus oleh Paus ke-255, Pius IX (21 Juni 1846 – 7 Februari 1878). Hingga kini Pesta Maria Dikandung Tanpa Noda dirayakan setiap tanggal 8 Desember.
Dogma ini mau menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung dalam rahim ibunya, Santa Anna, tanpa dosa asal yang merupakan dosa warisan Adam dan Hawa. Bunda Maria adalah satu-satunya manusia yang dianugerahi karunia ini. Bunda Maria memperoleh keistimewaan ini karena ia akan menjadi bejana yang kudus dimana Yesus, Putera Allah, akan masuk ke dunia melaluinya.
Sejak dari awal mula kehadirannya, Bunda Maria senantiasa kudus dan suci — betul-betul “penuh rahmat”. Kita menggunakan kata-kata ini ketika kita menyapa Maria dalam Doa Salam Maria, tetapi banyak orang yang tidak meluangkan waktu untuk memikirkan apa arti sebenarnya kata-kata ini. Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Bunda Maria untuk menyampaikan kabar sukacita, dialah yang pertama kali menyapa Maria dengan gelarnya yang penting ini, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Lukas 1:28)
Kata-kata “penuh rahmat” ketika diterjemahkan dari teks bahasa Yunani, sesungguhnya digunakan sebagai nama yang tepat untuk menyapa Maria. Istilah Yunani yang digunakan menunjukkan bahwa Maria dalam keadaan penuh ramat atau dalam keadaan rahmat yang sempurna sejak dari ia dikandung sampai sepanjang hayatnya di dunia. Bukankah masuk akal jika Tuhan menghendaki suatu bejana yang kudus, yang tidak bernoda dosa untuk mengandung Putera-Nya yang Tunggal? Bagaimana pun juga, Yesus, ketika hidup di dalam rahim Maria, tumbuh dan berkembang, sama seperti bayi-bayi lainnya tumbuh dan berkembang dalam rahim ibu mereka masing-masing. Ia menerima darah Maria dan menerima makanan untuk pertumbuhan-Nya dari tubuh Maria sendiri.

Dasar Biblis:
Lukas 1:26-38 –> Kabar/salam malaikat (Yang dikaruniai, Yang penuh rahmat, Tuhan menyertai engkau)
“Penuh ramat” (sepenuh-penuhnya/sepenuh mungkin):
a. Maria mempunyai segala rahmat yang sepenuhnya diberi Allah.
b. Maria mempunyai rahmat dalam ukuran yang paling lengkap dan menyeluruh.
c. Mari tidak berdosa, bahkan dosa asalpun tidak.
d. Keutamaan yang maha sempurna pun ada padanyan.
e. Sejak dalam kandungan pun tidak ada dosa.
f. Maria yang penuh dengan rahmat, tidak ada dosa,

Dokumen Gereja dan ajaran para Paus:
a. BULLA PAUS PIUS IX tanggal 8 Desember 1854: Dogma Santa Maria dikandung tanpa dosa
dalam –> Ineffabilis Deus.
b. PAUS PIUS XII dalam –> Munificentissimus Deus.
c. PAUS YOHANNES PAULUS II dalam –> Redemptoris Mater.

Ketiga dokumen di atas semua menjelaskan tentang Lukas 1 : 28, yang penuh rahmat/yang dikaruniai – sebagai yang dikandung tanpa dosa.

d. Dokumen KONSILI VATIKAN II — LUMEN GENTIUM No. 56: “Maria Perawan Nazareth, yang dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa sejak saat pertama ia dikandung dan mendapat salam penuh rahmat dari malaikat…” Pembawa kabar atas perintah Allah.

Dua metode pendekatan LUMEN GENTIUM — Bab VIII:
1. Pendekatan Maksimalis (Kristotipikal)
Apa saja yang terjadi pada anaknya Yesus, atau yang menjadi fungsi dan peran Yesus, atau yang menjadi tanda-gelar-jasa anaknya Yesus dari Nazareth: juga terjadi dan diberi pada Maria.

YESUS MARIA
a. Naik ke surga (Matius dan Kisah Para Rasul) a. Diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya
b. Pengantara (1 Timotius 2 : 5-6) b. Mediatrix (LG+BSB)
c. Raja alam semesta c. Ratu (7 Oktober)
d. Tidak berdosa d. Tak Bernoda (8 Desember)
e. Adam Baru e. Hawa Baru
f. Redemptor (Penebus) f. Co-Redemptrix

2. Pendekatan Minimalis (Ekklesiatipikal)
Berdasarkan pada dan dapat dibuktikan dalam Kitab Suci, dan Maria masuk dalam Gereja. Misalnya Maria dalam misteri penyelamatan, hamba TUhan, model/pola Gereja, ibu Gereja, dan lain-lain.

Dogma 4 : MARIA DIANGKAT KE SURGA
Ditetapkan pada 1 November 1950 dalam Konstitusi Apostolis Munificentissimus Deus oleh Paus ke-260, Pius XII (2 Maret 1939 – 9 Oktober 1958). Hingga kini Pesta Maria diangkat ke Surga dirayakan setiap tanggal 15 Agustus.
Dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dirayakan untuk menghormati suatu kebenaran, yaitu bahwa setelah akhir hidupnya di dunia, Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Dalam Kitab Kejadian 5:24 dan 2 Raja-Raja 2:1-12 Kitab Suci menceritakan bagaimana tubuh Henokh dan Elia diangkat ke surga. Jadi hal diangkat ke surga bukanlah hal baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gereja tidak pernah menegaskan secara resmi apakah Bunda Maria benar-benar meninggal secara jasmani, meskipun banyak ahli yang beranggapan demikian.
“Yakinlah anakku, bahwa tubuhku ini, yang telah menjadi bejana bagi Sabda yang hidup, telah dihindarkan dari kerusakan makam. Yakinlah juga, bahwa tiga hari setelah kematianku, tubuhku itu dibawa oleh sayap-sayap malaikat menuju tangan kanan Putera Allah, dimana aku memerintah sebagai ratu.” Demikian pesan Bunda Maria dalam suatu penampakan kepada St. Antonius dari Padua.
Dalam suatu meditasi mingguan, Paus Yohannes Paulus II menyatakan bahwa “Bundan tidak lebih tinggi dari Putera”. Pernyataannya itu memperkuat keyakinan bahwa Maria mengalami kematian jasmani. Karena Yesus sendiri harus wafat, maka logis sekali jika kita beranggapan bahwa Bunda Maria juga wafat secara fisik sebelum ia diangkat ke surga. Karena kita yakin bahwa Bunda Maria dikandung tanpa dosa dan tetap “penuh rahmat” sepanjang hidupnya di dunia, logis juga jika kita beranggapan bahwa tubuh jasmaninya dihindarkan dari kerusakan setelah kematiannya.