Spiritual Sustainability

Kelompok lingkungan hidup sangat gembira ketika Kardinal Jorge Mario Bergoglio memilih nama Fransiskus untuk gelar kepausannya. “Inilah Paus yang memikirkan sustainability. St Fransiskus Assisi adalah pelindung lingkungan. Dengan nama itu, Paus Fransiskus memberi contoh kepada umat Katolik agar memulihkan ciptaan Allah,” kata mereka.

Sejak 1980-an, konsep sustainable development atau pembangunan yang berkelanjutan menjadi dasar kegiatan masyarakat dunia. Namun, penerapan konsep itu sering gagal karena fokus yang diutamakan adalah sisi fisik, material sustainability, bukan spiritual sustainability. Secara tak sadar, fokus semacam ini juga terjadi di kalangan Gereja. Jumlah umat, jumlah gedung gereja, sekolah, rumah sakit, serta banyaknya kegiatan, sering menjadi ukuran pertumbuhan Gereja. Sementara sisi spiritual, sisi rohani, software dari kekristenan, diabaikan.

Melalui pernyataannya “Akulah Roti Hidup” (ay. 35), Yesus menyatakan, Diri-Nya adalah penyambung antara kehidupan manusia dengan Allah. Kesatuan dengan Yesus menjadi spiritual sustainability bagi kehidupan umat Kristen. Ini artinya, segala sesuatu harus dinilai, diukur, ditopang, dan ditentukan dari sisi relasi manusia dengan Allah melalui Yesus Kristus. Relasi itulah yang membuat manusia tetap hidup dalam keillahian, sehingga mampu mewujudkan cinta, kepercayaan, pengorbanan, ketaatan, dan pengampunan yang utuh.

Henricus Witdarmono (www.hidupkatolik.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: