MEMILIH PAUS

Hidup Katolik.com – Tata cara pemilihan paus atau konklaf nyaris tak ada perubahan. Setiap benua mempunyai harapan paus sesuai dengan ‘aspirasi” mereka.

Banyak orang, khususnya umat Katolik, bertanya-tanya: Siapa yang bertanggung jawab atas Gereja mondial jika paus turun takhta? Kapan dan bagaimana tata cara pemilihan paus? Dan masih banyak lagi pertanyaan detil dan teknis yang kerap diajukan umat. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang kerap diajukan oleh umat sekitar pemilihan paus.

Bagaimana pemerintahan Gereja dijalankan ketika seorang paus mengundurkan diri (atau wafat)?
Pemilihan seorang paus diatur dalam aturan Universi Dominici Gregis (‘Tentang Seluruh Kawanan Domba Tuhan’) yang disahkan oleh Paus Yohanes Paulus II (1996); kemudian diperbaiki oleh Paus Benediktus XVI (2007).

Seluruh kardinal yang bertugas dalam berbagai departemen di Kuria Roma, termasuk sekretaris negara (perdana menteri; menteri luar negeri), otomatis akan meletakkan jabatan ketika paus mengundurkan diri atau meninggal. Tetapi, pejabat biasa sehari-hari (para sekretaris) tetap terus bekerja. Persoalan dan kasus penting yang bisa menimbulkan kontroversi ditunda pembahasannya hingga terpilihnya paus baru.

Tiga posisi penting tetap berfungsi. Yaitu, Vikaris Jenderal Keuskupan Roma (Kardinal Agostino Vallini), Lembaga Pengampunan Dosa Apostolik (Major Penitentiary; dipimpin Kardinal Manuel Monteiro de Castro), dan Camerlengo (Chamberlain; Kantor Keuangan). Dalam masa transisi,Camerlengo yang dipimpin Kardinal Tarcisio Bertone memainkan peranan paling penting untuk urusan kerumahtanggaan, harta benda, dan uang. Ia melaporkan pekerjaan kepada Kolegium Kardinal yang bertanggung jawab dan bertugas ‘memerintah’ Gereja sehari-hari hingga paus baru terpilih.

Kekuasaan Kolegium Kardinal sebenarnya terbatas saja. Mereka tidak dapat membuat keputusan-keputusan penting, seperti mengubah Tata Cara Pemilihan Paus, mengangkat kardinal atau keputusan-keputusan lain yang mengikat paus berikut. Mereka berkoordinasi setiap hari hingga berlangsung konklaf. Rapat dipimpin oleh ‘dekan’ (Kardinal Angelo Sodano).

Apa itu konklaf (conclave)?
Sepanjang abad 13 berlangsung dua kali takhta suci kosong. Pertama, satu setengah tahun sebelum terpilihnya Paus Innosensius IV (1243 -1254); kedua, tiga setengah tahun sampai akhirnya diangkat Paus Gregorius X (1271-1276). Karena merasa pemilihan paus berlangsung lamban dan berlama-lama, penduduk mencari akal. Dalam kasus pertama, para pejabat dan penduduk Roma mendesak dan memasukkan kardinal dalam sebuah ruangan dan menguncinya dari luar, untuk memilih paus baru. Dalam kasus yang kedua, penduduk Viterbo (kota tempat paus menyepi; 80 km dari Roma) melakukan hal yang sama, memasukkan para kardinal ke dalam sebuah gedung dan menguncinya, dan hanya memberi makanan sederhana (roti dan air putih).

Dua kasus ini menjelaskan asal-usul ‘konklaf’. Berasal dari dua kata Latin: cum (‘dengan’) danclavis (‘sebuah kunci’); sebuah ruang yang dikunci. Sekarang ini, para kardinal mengunci ruang pertemuan untuk menjaga kerahasiaannya. Segala kemungkinan untuk komunikasi dengan orang luar ditutup. Bahkan, koran pun tidak diizinkan masuk dalam ruang konklaf. 

Kampanye sebelum konklaf?
Segala bentuk diskusi, apalagi kampanye, selama paus masih hidup (menjelang wafat atau mengundurkan diri) sama sekali tidak ditoleransi. Diskusi sebelum konklaf masih mungkin dibuat diantara para kardinal dalam forum-forum privat dan kelompok kecil. Diskusi ini bertujuan untuk mengenal dan memahami para calon dengan lebih baik. Kampanye publik bahkan setelah paus mengundurkan diri (atau wafat) dilarang, karena diyakini kontra-produktif.

Kapan dan di mana konklaf berlangsung?
Biasanya konklaf dijalankan sekitar dua minggu setelah paus mengundurkan diri (atau wafat). Semuanya ditentukan dan diorganisir oleh Kolegium Kardinal. Dilaksanakan di Kapel Sistina, Vatikan. Sementara para kardinal menginap di Rumah Santa Marta, sebuah residensi di Vatikan yang dibangun pada 1996.

Siapa yang mengikuti dan menjadi peserta konklaf?
Seluruh Kardinal yang belum berumur 80 tahun ketika paus mengundurkan diri (atau wafat). Begitu seorang kardinal masuk dalam konklaf, ia tidak bisa keluar dari ruangan, kecuali sakit atau alasan serius lainnya yang disetujui oleh mayoritas kardinal. Beberapa fungsi dimungkinkan ada di sekitar ruangan, misalnya perawat untuk menjaga kardinal yang sedang dalam perawatan, dokter, dan beberapa orang lain yang bertugas melancarkan pertemuan dan peribadatan.

Hanya kardinal yang belum berusia 80 tahun yang boleh memilih paus. Itu berarti, kali ini ada 117 kardinal yang memenuhi syarat sebagai pemilih dalam konklaf Maret ini, dengan rata-rata usia 72 tahun. Asal mereka adalah Italia (28; 24 persen), Eropa Barat (23; 20 persen), Eropa Timur (10; 9 persen), Asia (11; 9 persen), Afrika (11; 9 persen), Amerika Utara (17; 15 persen), dan Amerika Latin (16; 14 persen).

Topik hangat yang diperbincangkan dalam konklaf?
Para politisi kerap menyerukan sebuah keyakinan, “Seluruh politik bersifat lokal”. 

Dengan nuansa yang sedikit berbeda, apa yang berlangsung di dalam Gereja Katolik menyerupai kebenaran tadi. Kardinal yang datang dari negara-negara Afrika menginginkan paus yang sensitif akan keadilan sosial dan kritis terhadap keganasan ekonomi liberal. Asia akan menyuarakan keanekaragaman budaya dan agama sebagai cara baru memandang Gereja. Amerika Utara dan Eropa masih bergumul dengan ‘persoalan Islam’ dan pencarian identitas kekristenan. Sementara Amerika Latin masih berjuang – terkadang berperang – memahami Pentekostalisme dan Gereja evangelis yang kerap ‘mencuri dombadomba’ mereka.

Tata cara pemilihan dan terpilihnya Paus?
Dua pertiga dari jumlah pemilih (sekitar 80 suara) dibutuhkan untuk memilih paus. Kertas pilihan dibakar oleh petugas dengan membubuhkan bahan-bahan kimia yang akan memberikan warna asap hitam atau putih. Asap hitam yang keluar dari cerobong Kapel Sistina memberikan signal bahwa jumlah suara belum memenuhi syarat dan paus belum terpilih. Sebaliknya, bila yang muncul asap putih. Sesudah abad 13, konklaf rata-rata berlangsung hanya sekitar satu bulan. Konklaf terakhir, yang memilih Paus Benediktus XVI pada 2005, bahkan hanya membutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk mendapatkan paus baru.

Apa yang terjadi jika konklaf berlangsung alot dan tidak segera mendapatkan paus baru?
Jika terjadi tujuh kali pemilihan berturut-turut dan masih belum mendapatkan seseorang yang terpilih dua pertiga, Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan aturan Universi Dominici Gregis(‘Tentang Seluruh Kawanan Domba Tuhan’) (1996) yang di dalamnya menyebutkan satu poin yang mengesahkan prinsip mayoritas absolut (lebih dari separuh). Tetapi, Paus Benediktus mengembalikannya ke peraturan semula dengan tambahan klausul. Jika hingga pemilihan yang ke 34, paus masih belum terpilih, maka dua kandidat paus dengan suara terbanyak yang hanya akan menjadi pilihan. Paus baru diperoleh hanya setelah mendapat dua pertiga suara dari seluruh pemilih. Kardinal Proto-Diakon, yang saat ini dipegang oleh Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran yang berhak dan berkewajiban mengumumkan paus terpilih kepada umat dan publik.

Siapa yang boleh dipilih menjadi paus?
Teoretis, mereka yang dibaptis dan memenuhi umur sebagaimana dikatakan Hukum Kanonik terbuka kemungkinan untuk dipilih menjadi paus. Gregorius XVI dipilih sebagai paus (1831) dengan status kardinal dan imam, tetapi bukan uskup. Callistus III bahkan diangkat menjadi paus (1455) sebagai seorang awam. Dengan demikian, meski membutuhkan kondisi dan sejarah yang tidak biasa, paus bisa lahir di luar para kardinal yang hadir di dalam konklaf. Pada 2013 ini, hampir semua pengamat yakin bahwa paus akan muncul dari salah seorang kardinal pemilih, dan semuanya adalah uskup.

Greg Soetomo SJ, 
Disarikan dari: americamagazine.org/papal-transition#benedictresign

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: