UANG DAN INTENSI MISA

HIDUPKATOLIK.com – Dalam misa, kita sering mendengar imam untuk mendoakan intensi atas permohonan umat: ucapan syukur, ulang tahun, agar mendapat pekerjaan, kelancaran usaha, dan lain-lain. Dan yang paling sering adalah doa untuk kedamaian kekal jiwa seseorang yang telah meninggal.

Intensi doa bagi arwah tentu ada dasar ajarannya, dan sudah mentradisi sejak berabad lalu. Dalam ensiklik Mirae Caritatis (Kasih yang Mengagumkan, 1902), Paus Leo XIII mengingatkan bahwa rahmat tak terhingga yang mengalir dari korban Misa sungguh berdaya guna bagi jiwa. Ada hubungan antara persekutuan para kudus dan Misa. “Rahmat saling mengasihi di antara mereka yang hidup, yang diperteguh dan diperdalam melalui Sakramen Ekaristi, mengalir kepada semua, termasuk dalam persekutuan para kudus. Sebab persekutuan para kudus adalah… mereka yang telah berada di tanah air surgawi, mereka yang berada di api penyucian, dan mereka yang masih berziarah di dunia ini”.

Sementara Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklikEcclesia de Eucharistia, mengajarkan, “Dalam perayaan Kurban Ekaristi, Gereja berdoa agar Bapa yang penuh belas kasihan, menganugerahkan kepada anak-anak-Nya kepenuhan Roh Kudus, hingga mereka menjadi satu tubuh dan satu roh dalam Kristus. Gereja yakin bahwa permohonannya akan didengarkan, sebab dia berdoa dalam kesatuan dengan Kristus, yang menyambut permohonan ini dan mengumpulkannya menjadi korban penebusan-Nya.” (No 43).

Layak diingat bahwa tradisi mempersembahkan misa bagi mereka yang telah meninggal dunia, berasal sejak dari masa awal Gereja. Prasasti di makam-makam atau katakomba di kota Roma dari abad kedua membuktikan adanya praktik ini. Sebagai contoh, batu nisan makam Abercius (wafat tahun 180), Uskup Hieropolis di Phrygia, bertuliskan permohonan doa bagi kedamaian kekal jiwanya. St Sirilus dari Yerusalem (wafat tahun 386), dalam salah satu tulisan pengajarannya menjelaskan, Korban Ekaristi Yesus Kristus mendatangkan rahmat bagi orang-orang berdosa, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal. St Agustinus (wafat thn 430) dalam “Pengakuan-Pengakuan” mencatat wasiat ibunya, St Monika, “Satu hal saja kuminta darimu, yaitu agar engkau mengenangkan aku di altar Tuhan di mana pun engkau berada.”

Dengan demikian, kita pun dapat mencatat beberapa hal. Ketika seorang imam mempersembahkan Misa, imam memiliki tiga intensi. Pertama, mempersembahkan Misa dengan penuh hormat dan sah sesuai dengan norma-norma Gereja. Kedua, mempersembahkan Misa dalam persatuan dengan Gereja dan demi kebajikan seluruh Gereja. Ketiga, mempersembahkan Misa demi suatu intensi khusus, misalnya bagi kedamaian kekal jiwa seseorang yang telah meninggal dunia.

Misa untuk suatu intensi khusus biasanya ada sumbangan uang (stipendium) dari umat kepada imam dan Gereja. Sumbangan untuk intensi tentu ada ketentuan atau pedomannya, yakni Kitab Hukum Gereja atau Kanon. “Umat beriman kristiani, dengan menghaturkan stips (uang) agar Misa diaplikasikan bagi intensinya, guna membantu kesejahteraan Gereja dan dengan persembahan itu berpartisipasi dalam usaha Gereja mendukung para pelayan dan karyanya (Kan. 946). Namun pada ketentuan berikutnya (Kan. 947) ada harapan: “Hendaknya dijauhkan sama sekali segala kesan perdagangan atau jual-beli stips Misa”.

Uang yang diberikan, seiring dengan ujud yang dimohonkan, jangan sampai dipandang sebagai prasyarat: ada uang, baru didoakan; ada uang, doa pasti dikabulkan. Rahmat yang disyukuri tidak dapat dibeli dengan uang. (*Red. Hidup Katolik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: