KERJA YANG MENYEJAHTERAKAN SEMUA

Laborens Excersens 16 mengatakan bahwa Kerja merupakan “kewajiban, artinya tugas di pihak manusia”. Manusia harus bekerja, baik karena Sang Pencipta telah memerintahkannya maupun dalam rangka menanggapi kebutuhan untuk mempertahankan serta mengembangkan kemanusiaannya sendiri. Kerja merupakan suatu kewajiban moral terhadap sesama, yaitu baik keluarga kita sendiri maupun juga masyarakat dan bangsa di mana kita berada. Kita adalah ahli waris dari kerja banyak generasi dan pada saat yang sama kita pun menjadi pembentuk masa depan dari semua orang yang akan hidup sesudah kita. Karena itu, kerja manusia juga memiliki sebuah matra sosial yang intrinsik (bdk. KASG 273).

Bekerja adalah berbuat sesuatu untuk orang lain
Secara alamiah, kerja manusia berkaitan dengan kerja manusia-manusia lainnya. Centessimus Annus 31 mengatakan “bekerja berarti bekerja dengan sesama dan bekerja untuk sesama. Bekerja berarti berbuat sesuatu untuk orang lain”. Buah-buah kerja memberi kesempatan bagi pertukaran, relasi dan perjumpaan. Karenanya, kerja tidak dapat dinilai secara tepat bila hakikat sosialnya diabaikan: “Bila corak sosial dan personal kerja diabaikan maka akan mustahil menilai kerja secara adil dan membayarnya menurut keadilan” (Quadragesimo Anno: AAS 23, 200).

Bekerja berarti mengupayakan kesejahteraan untuk semua
Hakikat sosial dari kerja membuat setiap manusia juga harus mengupayakan kesejahteraan bagi semua, yaitu “keseluruhan kondisi-kondisi hidup kemasyarakatan, yang memungkinkan baik kelompok-kelompok maupun anggota-anggota perorangan, untuk secara lebih penuh dan lebih lancar mencapai kesempurnaan mereka sendiri” (Gaudium et Spes 26).
Perwujudan secara konkret kesejahteraan bagi semua itu bergantung pada kondisi-kondisi sosial dari setiap kurun historis dan terkait secara erat dengan penghormatan terhadap serta penggalakan atas pribadi dan hak-hak dasarnya. Hal ini terutama bersangkut paut dengan komitmen pada perdamaian, penataan berbagai kekuasaan negara, sistem peradilan yang sehat, perlindungan terhadap lingkungan hidup serta penyediaan berbagai pelayanan yang hakiki bagi setiap orang. Beberapa pelayanan itu merupakan bagian dari HAM, misal: makanan, perumahan, pekerjaan, pendidikan dan akses kepada kebudayaan, transportasi, perawatan kesehatan dasar, kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, serta perlindungan terhadap kebebasan beragama.
Tata dunia yang menyejahterakan semua harus semakin dikembangkan, didasarkan pada kebenaran, dibangun dalam keadilan, dihidupkan dengan cinta kasih. Supaya itu semua terwujudkan perlulah diadakan pembaharuan mentalitas dan perubahan-perubahan sosial secara besar-besaran.

Mengupayakan perwujudan matra sosial dari kerja
Dalam kesadaran akan matra sosial yang intrinsik dari kerja, Pendalaman Iman APP pertemuan keempat ini mengajak umat beriman untuk membangun bentuk/wujud nyata pertobatan pribadi dan bersama. Dalam pertemuan ini, umat diajak untuk mewujudkan secara nyata solidaritasnya dengan terlebih dahulu belajar dari pengalaman hidup orang yang pekerjaannya membawa kesejahteraan bagi semua. Pengalaman hidup yang diangkat adalah kiprah Rm. Carolus dalam perjuangannya di Kampung laut dsk. Belajar dari pengalaman hidup Rm. Carolus, umat beriman diharapkan mendapatkan gambaran mengenai model kiprah ‘kerja yang menyejahterakan semua’ karena kiprah Romo Carolus menyentuh aspek-aspek: lingkungan hidup, nilai-nilai inklusivitas, pemberdayaan masyarakat, perwujudan iman, dll. Inspirasi kiprah kerja yang menyejahterakan semua tersebut diteguhkan dengan inspirasi iman dari Yak 5:1-7. Yak 5:1-7 memberi peringatan kepada orang-orang yang merugikan sesamanya karena memberi upah yang tidak adil.
Dengan belajar dari pengalaman hidup dan menggali inspirasi iman dari Alkitab, umat beriman diajak untuk membangun bentuk-bentuk nyata hakikat sosial dari kerja serta mewujudkannya sebagai pertobatan pribadi dan bersama, misal dalam gerakan:
• Bekerja secara bertanggung jawab;
• Memberi upah yang adil;
• Memberi akses dan peluang mendapatkan pendidikan yang memadai;
• Menemukan persoalan sosial yang berkaitan dengan kerja di lingkungan, kelompok, stasi dan berusaha menemukan solusi tepat;
• Membangun gerakan bersama mencarikan pekerjaan dengan upah adil bagi sesama yang belum mendapatkan pekerjaan.

Sumber : Materi APP tahun 2013 Keuskupan Purwokerto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: