PERJAMUAN YESUS ADALAH KURBAN PARIPURNA

Menjelang wafat-Nya, Yesus mengadakan perjamuan terakhir dengan para murid. Saat memecah roti dan membagikannya, Dia berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (ay. 19). Perjamuan malam Paskah merupakan kenangan yang sakral, dan umat kristiani meneruskan tradisi ini. Setiap kali kita merayakan perjamuan, kita diajak untuk mengingat kembali bahwa Yesus telah memberikan hidup-Nya bagi kita. Artinya, kita sudah ditebus dan dipersatukan dengan Dia. Selain itu, Dia juga mempersatukan kita dengan pengikut-Nya yang lain.

Yesus meminta kita untuk mengenang pengurbanan-Nya melalui perjamuan. Kematian-Nya ibarat benih yang ditanam di tanah. Dia wafat untuk menumbuhkan tunas yang baru. Kitalah tunas-tunas itu. Tindakan-Nya untuk memberikan diri bagi kita dapat menjadi pendorong bagi kita agar kita pun berani memberikan diri dalam melayani sesama. Yesus tentu tidak ingin perjamuan itu hanya sekadar menjadi kenangan. Perjamuan Yesus itu menjadi indah apabila kita berani hidup dengan meneladani pengurbanan-Nya.

PERJAMUAN KUDUS ADALAH KESEMPATAN UNTUK MENGENANG KEMBALI
DAN MENSYUKURI PENEBUSAN KRISTUS YANG SEMPURNA

YESUS MEMBASUH KAKI PARA RASUL

YESUS MEMBASUH KAKI PARA RASUL

MEMAHAMI MAKNA TRI HARI SUCI

March 27, 2013

Trihari Suci dimulai dengan Ekaristi petang pada Kamis Putih, memuncak pada perayaan Malam Paskah, dan berakhir pada Ibadat Sore Minggu Paskah. Selama tiga hari suci ini, Gereja merayakan misteri terbesar karya penebusan: sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus.

KAMIS PUTIH

Pada hari Kamis Putih, seluruh umat beriman mengenang Perjamuan Malam Terakhir yang diadakan Yesus bersama murid-murid-Nya. Pada hari ini, kita mengenangkan penetapan Ekaristi, wujud pengurbanan Yesus. Di dalamnya, Ia menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya, yakni seluruh diri-Nya demi keselamatan kita. Maka setiap perayaan Ekaristi merupakan kenangan akan Perjamuan Paskah dan pengurbanan Kristus. Dalam perjamuan itu, Ia memberikan teladan pelayanan dengan membasuh kaki para murid, dan memberikan perintah baru agar kita saling mengasihi.

Kamis Putih juga merupakan hari rekonsiliasi. Pada hari ini Gereja menyambut para petobat yang kembali berdamai dengan Allah dan jemaat.

Sesudah Perayaan Ekaristi meriah, diadakan perarakan Sakramen Mahakudus dan tuguran (malam berjaga) di hadapan Sakramen Mahakudus.

Perayaan Kamis Putih ditata sebagai berikut: Pembukaan, Liturgi Sabda, Pembasuhan Kaki, Liturgi Ekaristi, Pemindahan Sakramen Mahakudus.

JUMAT AGUNG

Pada hari ini, Kristus – Anakdomba Paskah kita dikurbankan. Dalam Ibadat Sabda sesudah tengah hari (pukul 15.00), Gereja mengenangkan sengsara dan wafat Yesus, menghormati salib dan mengenang kembali kelahirannya dari lambung Yesus yang tergantung di salib.

Pada hari ini tidak ada perayaan Ekaristi; Gereja menjalani puasa Paskah yang dipandang penting. Bila mungkin, puasa ini diperpanjang sampai hari Sabtu Suci supaya kita dapat merayakan kegembiraan kebangkitan Tuhan.

Ibadat Jumat Agung terdiri dari tiga bagian: Liturgi Sabda, Penghormatan Salib dan Komuni.

MALAM PASKAH

Malam Paskah adalah malam suci kebangkitan Tuhan, yang merupakan puncak perayaan Trihari Suci. Pada malam ini Gereja berjaga, menantikan kebangkitan Kristus dan merayakannya dalam ibadat suci.

Pada Malam Paskah ini, Gereja juga membaptis para katekumen. Kebiasaan ini didasarkan pada keyakinan bahwa dengan dibaptis, pada katekumen ambil bagian dalam misteri Paskah: mati dan bangkit bersama Kristus. Sebagaimana Kristus wafat, dikubur, lalu bangkit, demikian pula para baptisan mati terhadap dosa, dikuburkan (ditenggelamkan dalam air), dan bangkit (keluar dari air) untuk hidup baru sebagai anak Allah.

Dalam hubungan ini pula, kaum beriman diajak membarui janji baptis dalam Perayaan Malam Paskah. Maka Perayaan (Malam) Paskah juga selalu menjadi perayaan kebangkitan kita sebagai orang beriman: mati terhadap dosa, dan hidup baru sebagai anak Allah.

Liturgi Malam Paskah disusun sebagai berikut.Upacara Cahaya yang berpusat pada Kristus Sang Cahaya.Liturgi Sabda , yaitu merenungkan karya-karya agung Allah sejak awal mula.Liturgi Baptis , di sini Gereja membaptis para katekumen dan membarui janji baptis.Liturgi Ekaristi , dimana kita diundang ke perjamuan Tuhan, yakni perjamuan sukacita karena kebangkitan-Nya.

Masing-masing liturgi Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah tidak dipandang sekedar sebagai perayaan dari peristiwa-peristiwa yang terpisah, melainkan ketiganya sungguh dipandang sebagai satu misteri keselamatan. Oleh sebab itu, Misa Perjamuan Malam Terakhir Tuhan pada hari Kamis Putih tidak diakhiri dengan berkat penutup; melainkan berkat diberikan di akhir Misa Malam Paskah.Semoga kita semakin menghayati Pekan Suci ini dalam mempersiapkan hati menyambut kebangkitan Kristus. Marilah kita kuburkan segala dosa kita dan bangkit bersama Kristus… Alleluya!

Sumber : http://santovincentius.sch.id/component/content/article/111-tri-hari-suci.html

 

APA YANG HARUS DIPERBUAT?

Kotabaru, 22 Maret 2013. Hari Kebangkitan Tuhan semakin dekat. Sudah banyak hal dilakukan oleh umat Katolik maupun Kristen Dunia. Juga tidak ketinggalan Umat Katolik St. Yusup Kotabaru, Kalimantan Selatan. Hal yang menjadi agenda adalah permenungan APP (Aksi Puasa Pembangunan) yang punya maksud menyiapkan hati dan jiwa untuk ikut ambil bagian dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Kepedulian terhadap sesama yang Kecil, Lemah, Miskin dan Tersingkir (KLMT) lewat dana APP yang setiap saat menjadi aksi umat. 

Hal lain yang merupakan kesiapan umat untuk menyambut kebangkitan Yesus adalah dengan berbagai latihan dan Gladi untuk Perayaan secara liturgis dilaksanakan oleh Komunitas Basis Gerejani (KBG) di Gereja St. Yusup Kotabaru. KBG-KBG yang menjadi team dalam liturgi dengan siap sedia meluangkan waktunya untuk kegiatan tersebut.

Semestinya tidak ketinggalan dan merupakan hal pokok yang harus dilaksanakan adalah menyiapkan hati dengan mawas diri dan bertobat. Olah rohani ini yang sebaiknya mendapat tempat dihati umat. Karena ini merupakan anugerah yang cuma-cuma diberikan Tuhan kepada umat lewat Pemuka Gereja. Tuhan menyediakan hati lewat Para Rasul dan diteruskan oleh Uskup dan Imam yang siap sedia memberikan Absolusi atas dosa-dosa kita. (*red)

JELANG HARI PENYELAMATAN TUHAN

St. Yusup Kotabaru, 20 Maret 2013. Sejak Hari Minggu(17 Maret red*) Umat Katolik St. Yusup Kotabaru mengadakan berbagai persiapan menjelang hari raya Paskah tahun ini. Diantara agenda yang sedang dan akan dilaksanakan yaitu latihan para petugas liturgi : Lektor, Pemazmur, Putra-putri Altar, Koor, Dirigen, Organis, Para Rasul, Passio Minggu Palma dan juga Jumat Agung dll. Hal ini dimaksudkan untuk memaksimalkan pelayanan dalam Perayaan yang merupakan puncak Iman Kristen yaitu Kebangkitan Tuhan.

Dalam berbagai agenda itu ada beberapa petugas berhalangan hadir dikarenakan kesibukan tugas sebagai karyawan atau pegawai di beberapa instansi. Hal ini bukan terjadi hanya sekali, namun sangat diharapkan agar saat tugas nanti benar-benar dipersiapkan.

Semangat dalam melaksanakan Gladi Bersih tidak menjadi kendor dikarenakan di beberapa kesempatan Pastor hadir dan mendampingi langsung dalam latihan. Banyak hal di kritisi oleh Pastor diantaranya mengenai Koor. Lagu-lagu yang dinyanyikan sebaiknya mengacu kepada fungsi koor yang sesungguhnya. Karena dalam beberapa kejadian koor dominan mennyaikan lagu dan umat hanya sebagai penonton. Hal ini di sebabkan oleh pilihan lagu yang kurang dikenal oleh umat, sebaiknya pilihan lagu mengacu pada kebersamaan umat untuk ikut memuji dan memuliakan Tuhan. Hal lain tentang situasi liturgi yang sering terjadi jeda waktu yang panjang dari peristiwa satu dengan lainnya, ini dikarenakan kurang responnya petugas selanjutnya.

Merupakan kesempatan yang baik untuk saling memahami dalam persoalan hidup bersama dalam jemaat, untuk saling memiliki rasa kepedulian bahwa Gereja adalah kita semua. Perkembangan hidup Gereja, salah satunya dalam hal Liturgi juga dari kita yang harus menghidupkannnya.

Kesiapan perayaan Paskah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari seluruh nafas hidup Gereja sepanjang masa. Terpujilah Tuhan, Maha Kuasa.

SEJARAH SINGKAT PAUS TERPILIH

VATIKAN, suaramerdeka.com – Konklaf memilih Kardinal Argentina Jorge Mario Bergoglio menjadi Paus ke-266 menggantikan Paus Benediktus XVI. Dengan nama Paus Franciskus I.

Jorge Mario Bergoglio, SJ llahir 17 Desember 1936 adalah kardinal Argentina Gereja Katolik Roma. Dia telah menjabat sebagai Uskup Agung Buenos Aires sejak 1998. Dia diangkat menjadi Kardinal pada 2001. Konklaf di Kapel Sistina, Rabu (13/3) memilihnya menjai Paus ke-266.

Bergoglio memilih Francis untuk nama baru Paus. Dia adalah Paus pertama yang berasal dari kawasan Amerika Selatan.

Paus Jorge Mario Bergoglio menjadi Ordo Jesuit pertama yang menjadi Paus.

Paus asal Argentina ini, semasa menjadi Kardinal Argentina dikenal sebagai penentang aborsi, hukuman suntik mati, pernikahan sesama jenis.

Awal kehidupan Jorge Bergoglio lahir di Italia, salah satu dari lima anak dari pekerja kereta api. Setelah belajar di seminari di Villa Devoto, ia masuk Serikat Yesus pada tanggal 11 Maret 1958. Bergoglio diperoleh pemegang diploma dalam filsafat dari Colegio Máximo San José di San Miguel, dan kemudian diajarkan sastra dan psikologi di Colegio de la Inmaculada di Santa Fe, dan Colegio del Salvador di Buenos Aires.

Dia ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 13 Desember 1969, oleh Uskup Agung Ramón José Castellano. Dia menghadiri Fakultas Filsafat dan Teologi San Miguel, sebuah seminari di San Miguel. Bergoglio mencapai posisi master pemula di sana dan menjadi profesor teologi. Terkesan dengan kemampuan kepemimpinannya, Society of Jesus dipromosikan Bergoglio dan ia menjabat sebagai provinsi untuk Argentina 1973-1979.

Dia dipindahkan pada tahun 1980 untuk menjadi rektor seminari di San Miguel di mana ia pernah belajar. Ia menjabat dalam kapasitas itu sampai tahun 1986. Dia menyelesaikan disertasi doktornya di Jerman dan kembali ke tanah airnya untuk melayani sebagai direktur pengakuan dan spiritual di Córdoba.

( Rifki / CN34 / JBSM )

PAUS BARU TERPILIH

Paus Fransiskus I

Warta News-Vatikan – Asap putih baru saja mengepul dari cerobong asap khusus Kapel Sistina, Vatikan, Rabu (13/3/2013) malam. Keluarnya asap putih dari cerobong Kapel Sistina menunjukkan bahwa Paus yang baru telah terpilih. Asap mengepul sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Dengan telah mengepulnya asap putih ini, berarti pengganti Paus Emeritus Benediktus XVI sudah terpilih melalui empat pemungutan suara sejak Selasa (12/3/2013).

Paus baru yang terpilih ini menggantikan Benediktus XVI sebagai pemimpin 1,2 miliar umat Katolik se-dunia. Paus yang baru terpilih ini merupakan Paus ke-266 dalam 2.000 tahun sejarah Gereja Katolik. seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (14/3/2013).

Konklaf untuk memilih paus baru digelar sejak Selasa (12/3) menyusul pengunduran diri Paus Benediktus XVI pada 28 Februari 2013 lalu. Konklaf memilih Kardinal Argentina Jorge Mario Bergoglio menjadi Paus ke-266 menggantikan Paus Benediktus XVI.

Pengumuman nama Paus baru ini disampaikan dari Balkon St Petrus, Rabu (13/3/2013) pukul 20.12 waktu setempat.

Jorge Mario Bergoglio, SJ yang lahir pada 17 Desember 1936 adalah Kardinal Argentina Gereja Katolik Roma. Dia telah menjabat sebagai Uskup Agung Buenos Aires sejak 1998. Dia diangkat menjadi kardinal pada 2001. Konklaf di Kapel Sistina, Rabu (13/3/2013), memilihnya menjadi Paus ke-266.

Bergoglio memilih Francis untuk nama baru Paus. Dia adalah Paus pertama yang berasal dari kawasan Amerika Selatan. (*/vik)

KERJA YANG MENYEJAHTERAKAN SEMUA

Laborens Excersens 16 mengatakan bahwa Kerja merupakan “kewajiban, artinya tugas di pihak manusia”. Manusia harus bekerja, baik karena Sang Pencipta telah memerintahkannya maupun dalam rangka menanggapi kebutuhan untuk mempertahankan serta mengembangkan kemanusiaannya sendiri. Kerja merupakan suatu kewajiban moral terhadap sesama, yaitu baik keluarga kita sendiri maupun juga masyarakat dan bangsa di mana kita berada. Kita adalah ahli waris dari kerja banyak generasi dan pada saat yang sama kita pun menjadi pembentuk masa depan dari semua orang yang akan hidup sesudah kita. Karena itu, kerja manusia juga memiliki sebuah matra sosial yang intrinsik (bdk. KASG 273).

Bekerja adalah berbuat sesuatu untuk orang lain
Secara alamiah, kerja manusia berkaitan dengan kerja manusia-manusia lainnya. Centessimus Annus 31 mengatakan “bekerja berarti bekerja dengan sesama dan bekerja untuk sesama. Bekerja berarti berbuat sesuatu untuk orang lain”. Buah-buah kerja memberi kesempatan bagi pertukaran, relasi dan perjumpaan. Karenanya, kerja tidak dapat dinilai secara tepat bila hakikat sosialnya diabaikan: “Bila corak sosial dan personal kerja diabaikan maka akan mustahil menilai kerja secara adil dan membayarnya menurut keadilan” (Quadragesimo Anno: AAS 23, 200).

Bekerja berarti mengupayakan kesejahteraan untuk semua
Hakikat sosial dari kerja membuat setiap manusia juga harus mengupayakan kesejahteraan bagi semua, yaitu “keseluruhan kondisi-kondisi hidup kemasyarakatan, yang memungkinkan baik kelompok-kelompok maupun anggota-anggota perorangan, untuk secara lebih penuh dan lebih lancar mencapai kesempurnaan mereka sendiri” (Gaudium et Spes 26).
Perwujudan secara konkret kesejahteraan bagi semua itu bergantung pada kondisi-kondisi sosial dari setiap kurun historis dan terkait secara erat dengan penghormatan terhadap serta penggalakan atas pribadi dan hak-hak dasarnya. Hal ini terutama bersangkut paut dengan komitmen pada perdamaian, penataan berbagai kekuasaan negara, sistem peradilan yang sehat, perlindungan terhadap lingkungan hidup serta penyediaan berbagai pelayanan yang hakiki bagi setiap orang. Beberapa pelayanan itu merupakan bagian dari HAM, misal: makanan, perumahan, pekerjaan, pendidikan dan akses kepada kebudayaan, transportasi, perawatan kesehatan dasar, kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, serta perlindungan terhadap kebebasan beragama.
Tata dunia yang menyejahterakan semua harus semakin dikembangkan, didasarkan pada kebenaran, dibangun dalam keadilan, dihidupkan dengan cinta kasih. Supaya itu semua terwujudkan perlulah diadakan pembaharuan mentalitas dan perubahan-perubahan sosial secara besar-besaran.

Mengupayakan perwujudan matra sosial dari kerja
Dalam kesadaran akan matra sosial yang intrinsik dari kerja, Pendalaman Iman APP pertemuan keempat ini mengajak umat beriman untuk membangun bentuk/wujud nyata pertobatan pribadi dan bersama. Dalam pertemuan ini, umat diajak untuk mewujudkan secara nyata solidaritasnya dengan terlebih dahulu belajar dari pengalaman hidup orang yang pekerjaannya membawa kesejahteraan bagi semua. Pengalaman hidup yang diangkat adalah kiprah Rm. Carolus dalam perjuangannya di Kampung laut dsk. Belajar dari pengalaman hidup Rm. Carolus, umat beriman diharapkan mendapatkan gambaran mengenai model kiprah ‘kerja yang menyejahterakan semua’ karena kiprah Romo Carolus menyentuh aspek-aspek: lingkungan hidup, nilai-nilai inklusivitas, pemberdayaan masyarakat, perwujudan iman, dll. Inspirasi kiprah kerja yang menyejahterakan semua tersebut diteguhkan dengan inspirasi iman dari Yak 5:1-7. Yak 5:1-7 memberi peringatan kepada orang-orang yang merugikan sesamanya karena memberi upah yang tidak adil.
Dengan belajar dari pengalaman hidup dan menggali inspirasi iman dari Alkitab, umat beriman diajak untuk membangun bentuk-bentuk nyata hakikat sosial dari kerja serta mewujudkannya sebagai pertobatan pribadi dan bersama, misal dalam gerakan:
• Bekerja secara bertanggung jawab;
• Memberi upah yang adil;
• Memberi akses dan peluang mendapatkan pendidikan yang memadai;
• Menemukan persoalan sosial yang berkaitan dengan kerja di lingkungan, kelompok, stasi dan berusaha menemukan solusi tepat;
• Membangun gerakan bersama mencarikan pekerjaan dengan upah adil bagi sesama yang belum mendapatkan pekerjaan.

Sumber : Materi APP tahun 2013 Keuskupan Purwokerto