KOMPENDIUM AJARAN SOSIAL GEREJA Artikel 273

 

Kerja manusia juga memiliki sebuah matra sosial ( dimensi sosilal) yang intrinsik. Kerja seseorang malah secara alamiah berkaitan dengan kerja orang-orang lain. Dewasa ini “lebih dari kapan pun, bekerja berarti bekerja dengan sesama dan bekerja untuk sesama. Bekerja berarti berbuat sesuatu untuk seseorang”. Buah-buah kerja memberi kesempatan bagi pertukaran, relasi dan perjumpaan. Kerja karenanya tidak dapat dinilai secara tepat bila hakikat sosialnya tidak diindahkan: “Sebab usaha produktif manusia tidak akan membuahkan hasil kecuali bila ada sebuah lembaga yang sungguh-sungguh sosial dan organis, kecuali bila ada sebuah tatanan sosial dan hukum yang mengawasi pelaksanaan kerja, kecuali bila pelbagai bentuk kerja yang saling bergantung rela berpadu dan saling melengkapi, dan yang masih lebih penting lagi, kecuali bila akal budi, unsur-unsur materiil dan kerja berpadu dan seakan-akan membentuk hanya satu keseluruhan yang tunggal. Oleh karena itu, bila corak sosial dan personal kerja diabaikan maka akan mustahil menilai kerja secara adil dan membayarnya menurut keadilan.”

 Garis besar simpul-simpul dan peneguhan yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam kebersamaan, misalnya sbb.:

  • Secara alamiah, kerja seseorang selalu berkaitan dengan kerja orang-orang lain.
  • Usaha produktif manusia melalui kerja dapat dikatakan berhasil apabila ada beberapa hal yang mendukungnya, misal:
  1. Adanya tatanan sosial.
  2. Adanya ketergantungan dan saling melengkapi antara manusia satu dengan yang lainnya.
  3. Selalu tidak ditinggalkan tentang akal budi manusia yang dapat digunakan untuk bekerjasama dengan orang lain (corak sosial).
  • Kita sebagai orang beriman, tidaklah tepat apabila melakukan kerja demi kepentingan diri-sendiri. Kita perlu memikirkan kehidupan orang lain. oleh karenanya harkat dan martabat orang lain pun perlu diindahkan melalui kerja kita.
  • Mengindahkan kehidupan sesama berarti turut membantu untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Dengan kata lain kita turut menjadi berkat bagi sesama kita.
Iklan

Pingin menjadi yang terbesar?

Mat 20:19Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Mat 20:20Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

Mat 20:21Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

Mat 20:22Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

Mat 20:23Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

Mat 20:24Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

Mat 20:25Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

Mat 20:26Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

Mat 20:27dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

Mat 20:28sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Yer 18:18 Berkatalah mereka: “Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!”

Yer 18:19 Perhatikanlah aku, ya TUHAN, dan dengarkanlah suara pengaduanku!

Yer 18:20

Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka.

Kisah Tragis Gadis Korban Asap Rokok

Noor Atika Hasanah

Bagi para ortu perokok, aku mohon banget supaya ngerokok sejauuuh mungkin dari anaknya walau sampai anak dewasa supaya jauh dari kemungkinan terkena flek paru.” Begitulah tulisan Noor Atika Hasanah dalam statusnya di Facebook danTwitter, tiga hari sebelum kematiannya yang mengagetkan rekan-rekannya di jejaring sosial.

Bagaimana teman-temannya tidak kaget, karena 10 jam yang lalu, perempuan kelahiran 8 November 1982 itu masih sempat membuat status di Twitter dan Facebook. Dalam status Facebook dan akun Twitternya @tikuyuz, perempuan yang oleh teman-temannya disapa Tika ini menulis status terakhirnya, bahwa ia sudah satu malam berada di RS Sulianti Saroso Sunter dan sedang menunggu hasil infeksinya.

Namun tiba-tiba pada Kamis 30 Desember 2010 pukul 14.00 WIB, dikabarkan perempuan manis tersebut telah meninggal dunia. Tika adalah salah satu korban yang meninggal akibat perokok pasif. Dalam status-statusnya Tika menegaskan dia tidak merokok tapi dia adalah korban dari asap si perokok.

Dia menulis dirinya terkena flek paru dan divonis dokter menderita Bronchopneumonia Duplex. Meski sudah divonis menderita penyakit paru parah, dia mengaku tidak menyerah dengan penyakit ini. “Well, hello Bronchopneumonia Duplex! I’m not afraid of you ,” kata Tika dalam status Twitternya pada 24 Desember 2010.

Akibat penyakitnya ini Tika mengaku berat badannya melorot hingga 35 Kg padahal normal berat badannya 42 Kg. Penyakit ini telah membuatnya sering mengalami sesak napas, batuk keras dan pilek.

Bahayanya Perokok Pasif

Kematian Tika kembali menyadarkan orang betapa bahayanya efek merokok walaupun kita bukan perokok. Sudah tak terhitung berapa banyak korban sakit paru-paru dari orang yang bukan perokok. Terperangkap dalam lingkaran para perokok, membuat si perokok pasif punya potensi 30 persen terkena penyakit mematikan mulai dari flek paru hingga kanker paru-paru.

Perokok pasif biasanya menghirup asap yang berasal dari pembakaran rokok dan juga asap yang dikeluarkan oleh seorang perokok aktif. Menjadi perokok pasif sebenarnya tanpa disadari telah membuat seseoran menjadi perokok. Biasanya perokok pasif ini berada di rumah, mobil, tempat kerja dan tempat-tempat umum lainnya seperti bar.

Untuk melihat seberapa besar perokok pasif terpapar asap rokok dapat diuji dengan mengukur kadar nikotin, cotinine dan karbon monoksida dalam darah, air liur atau urinnya. Cotinine ini adalah suatu hasil produk metabolisme nikotin dalam tubuh.

Nilai Kerja Manusia

Di jaman yang semakin kompleks ini, makna dan nilai bekerja telah bergeser. Bekerja dipahami secara sempit sebagai hal duniawi belaka. Kebanyakan orang tanpa sadar melihat makna bekerja sekadar mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Fakta lain menunjukkan bahwa makna dan nilai bekerja telah menyempit menjadi mengejar nilai ekonomis. Kepuasan dalam bekerja identik dengan kepuasan materialis. Manusia bekerja tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing, namun untuk mengumpulkan modal. Modal dan uang dikejar demi uang itu sendiri dan tidak lagi mempertimbangkan kesejahteraan bersama (bonum commune). Akhirnya kerja pun bukan lagi demi pemenuhan kebutuhan hari ini, tetapi melampaui kebutuhan dan memiliki orientasi mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Bahkan demi mendapatkan hasil ekonomis, seseorang mengabaikan nilai moral dalam bekerja, dengan melakukan praktek ketidak jujuran.

Dalam mengolah dan menggumuli subtema pertemuan pertama ini, kita perlu memperhatikan beberapa segi atau aspek pokok pewartaan terkait. Dengan demikian karena terang dan ispirasi darinya kita dapat menemukan makna dan arti baru kerja dalam kehidupan sehari-hari.

Kerja sebagai panggilan Tuhan

Kerja menegaskan jati diri fundamental manusia yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah. Perjanjian Lama menampilkan Allah sebagai Pencipta Mahakuasa (bdk. Kej 2:2; Ayb 38-41; Mzm 104; Mzm 147) yang membentuk manusia seturut citra-Nya dan mengundang dia untuk mengolah tanah (bdk. Kej 2:5-6) serta mengusahakan dan memelihara taman Eden di mana Allah telah menempatkannya. Kepada pasangan manusia pertama Allah mempercayakan tugas untuk menaklukkan bumi dan berkuasa atas semua makhluk hidup (bdk. Kej 1:28). Namun kekuasaan yang dilaksanakan manusia atas semua makhluk hidup yang lain, bukanlah sesuatu yang lalim atau sewenang-wenang; sebaliknya, ia harus “mengusahakan dan memelihara” (Kej 2:15) harta benda yang telah diciptakan Allah. Harta benda ini tidak diciptakan manusia, tetapi telah diterimanya sebagai suatu karunia berharga yang ditempatkan Sang Pencipta di bawah tanggung jawabnya.

Mengusahakan bumi berarti tidak membiarkan dan menelantarkannya; menaklukkannya berarti memeliharanya, seperti seorang raja arif yang mengayomi rakyatnya dan seorang gembala yang menjaga kawanan dombanya. Hal tersebut juga menerangkan tentang kegiatan manusia di dalam alam semesta: manusia bukanlah pemiliknya, melainkan orang-orang kepada siapa alam semesta itu telah dipercayakan, yang dipanggil untuk memantulkan di dalam cara kerja mereka sendiri gambar dari Dia yang di dalam keserupaan dengan-Nya mereka telah diciptakan. Dengan kata lain pekerjaan yang kita jalani adalah merupakan karunia dan rahmat Tuhan sendiri yang mesti kita hayati secara bertanggungjawab seturut martabat yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Kerja bukan hukuman Tuhan

Kerja adalah bagian dari keadaan asli manusia dan mendahului kejatuhannya ke dalam dosa; karenanya kerja bukan merupakan hukuman atau kutukan. Kerja menjadi berat dan menyengsarakan karena dosa Adam dan Hawa, yang memutuskan relasi kepercayaan dan keselarasan mereka dengan Allah (bdk. Kej 3:6-8). Larangan untuk makan dari “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” (Kej 2:17) menjadi peringatan bagi manusia bahwa ia telah menerima segala sesuatu sebagai anugerah, dan bahwa ia senantiasa menjadi makhluk dan bukan Khalik. Justru godaan inilah yang mendorong Adam dan Hawa berbuat dosa: “kamu akan menjadi seperti Allah” (Kej 3:5). Mereka menghendaki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu, tanpa mau taat kepada kehendak Sang Pencipta. Sejak saat itu, tanah menjadi seteru yang pelit, tak sudi mengganjar dan degil (bdk. Kej 4:12); hanya dengan peluh yang menetes di kening barulah mungkin tanah itu mengeluarkan hasil (bdk. Kej 3:17,19).

Sekalipun dosa kedua nenek moyang kita itu, rencana Sang Pencipta, makna makhluk-makhluk ciptaan-Nya – dan di antaranya manusia yang dipanggil untuk mengusahakan dan memelihara ciptaan – tetap tidak berubah. Pada dasarnya Allah menghendaki agar manusia dalam hidupnya berkerja. Dan manusia menjalaninya secara benar sebagai tugas dalam dunia milik Tuhan. Melalui kerja manusia bisa bertahan dan melanjutkan hidupnya serta berinteraksi dengan lingkungan dan ciptaan Tuhan lainnya, sekaligus sebagai salah satu cara memuliakan Tuhan.

Hubungan kerja dengan iman

Hubungan kerja dengan iman atau kerja merupakan perwujudan iman, kaitannya tidak begitu mudah dilihat secara lahiriah. Hanya pribadi yang bersangkutan yang bisa merasakan dan menghayatinya. Walaupun demikian, kita mesti memaknainya secara jernih. Rasul Yakobus menyatakan seperti berikut ini. Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati(Yak 2:17). Iman adalah jawaban kita kepada panggilan Tuhan. Iman itu hendaknya diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam bekerja. Oleh karena itu kita hendaknya semakin terbuka terhadap kehendak Tuhan, untuk bekerja dengan semangat iman, demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan manusia. Sikap dan semangat yang lain seperti menghargai pekerjaan dan pekerja, peduli terhadap fenomena pengangguran serta bersemangat dalam karya pelayanan adalah merupakan buah-buah dan wujud dari iman kita.

Akhirnya perlu disampaikan khususnya bagi para pemandu, dalam menggumuli subtema pertemuan pertama ini dalam kebersamaan, tentu diperlukan langkah dan proses yang mendukungnya agar sungguh mengena, menyentuh, dan mendalam. Dengan demikian dalam pertemuan ini bisa menghasilkan buah-buah pertobatan yang dapat mengembangkan hidup beriman umat bertolak dari situasi konkritnya. Oleh karena itu maka dalam pertemuan ini pertama-tama peserta akan diajak menyadari pengalaman hidup masing-masing dalam kebersamaan dan kemudian mengambil terang serta inspirasi dari Ajaran Gereja khususnya dari Kompendium ”Ajaran Sosial Gereja” (ASG) Artikel 275.

Sumber “Bahan Pemandu APP 2013 Keuskupan Purwokerto” 

TUHAN SUNGGUH MAHA KASIH KEPADA KITA

Mat 7:7 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Mat 7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Mat 7:9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
Mat 7:10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
Mat 7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Mat 7:12 “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

“Hendaklah engkau perbuat seperti Tuhan perbuat bagimu, hanya dengan kasih bisa berjalan sesuai yang dikehendaki-Nya”.

MAZMURKU BAGI TUHAN

Mzm 138:1 Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.

Mzm 138:2 Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.

Mzm 138:2 Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.

Mzm 138:3 Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.

Mzm 138:7 Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.

Mzm 138:8 TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!