Materi Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kelas VII

Pelajaran I : Martabat luhur sebagai Citra Allah

  • Kata “citra” dapat diartikan sebagai (image) yang menunjukkan identitas atau ciri seseorang atau kelompok. Biasanya, kata Citra dikaitkan dengan suatu nilai yang dianggap ideal dan baik, dan umumnya terkait dengan tindakan, sifat, atau karakter seseorang. Kalau kita mengatakan citra masyarakat tertentu, maka yang dimaksud adalah gambaran  positif tentang nilai-nilai, karakter atau kebiasaan masyarakat yang mampu memberi ciri yang  jelas dan tegas tentang masyarakat itu sehingga bisa dibedakan dari masyarakat yang lain. Oleh karena itu, kita mengenal juga ada citra yang baik dan ada citra yang buruk tentang seseorang atau kelompok masyarakat tertentu.
  • Kata “citra” juga mempunyai makna keserupaan, gambaran, atau kemiripan antara seseorang atau kelompok yang dicitrakan. Misalnya, seseorang anak merupakan citra atau gambaran orang tuanya karena mempunyai keserupaan, gambaran, atau kemiripan dalam hal-hal tertentu. Iapun sekaligus mempunyai tanggungjawab menampilkan citra orang tuanya sebaik mungkin. Dengan kata lain, gambaran tentang orang tuanya bisa dikenali melalui  ciri-ciri fisik atau pola tindakan anaknya. Demikian pula halnya citra masyarakat tercermin dalam perilaku setiap anggota masyarakatnya.
  • Baca kitab Kejadian 1 ; 26 – 28 tentang “Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya“ dan Gaudium et spes artikel 12  “Dokumen Konstitusi Pastoral tentang Gereja di dunia dewasa ini”.
  • Dalam kisah Penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai “citra Allah” artinya serupa dan segambar dengan Allah sendiri. Kata “Serupa” dan “segambar” sekaligus melukiskan secara tepat bahwa manusia dengan Allah  berbeda, tetapi ada juga kesamaannya.
  • Sejauh terlukiskan dalam Kitab suci, istilah citra Allah hanya dikenakan pada manusia, tidak dikenakan pada ciptaan Tuhan lainnya. Hanya manusialah yang disebut citra Allah.
  • Karena manusia diciptakan sebagai citra Allah, maka manusia memiliki martabat sebagai pribadi, ia bukan hanya sesuatu, melainkan seseorang. ia mengenal dirinya sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan berkat rahmat ia dipanggil membangun relasi dengan Allah, pencipta-Nya.
  • Sebagai citra Allah, manusia diberi karunia khusus berupa : akal budi, kebebasan, dan Hati nurani. Kemampuan-kemampuan dasar itulah yang membedakan antara manusia dengan ciptaan Tuhan lainnya. Manusia adalah ciptaan Allah yang bermartabat luhur. Siapapun dia, ia adalah Citra Allah, ia wakil Allah di dunia.
  • Sebagai Citra Allah, manusia sangat dikasihi oleh Allah (lihat Gaudium Et Spes Art. 12). Manusia “di dunia merupakan makhluk yang dikehendaki Allah demi diri-Nya sendiri” (lihat Gaudium Et Spes Art, 24). Manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Allah sendiri.
  • Karena semua manusia adalah citra Allah, berasal dari Allah, maka semua manusia mempunyai ikatan kesatuan. Mereka harus saling mengasihi, menghormati, tidak saling menghina dan merendahkan serta hidup sebagai saudara satu terhadap yang lain.

Pelajaran II : Panggilan Manusia sebagai Citra Allah

  • Banyak situasi yang menunjukkan tindakan manusia yang tidak atau belum mencerminkan panggilan dirinya sebagai Citra Allah. Disana-sini keutuhan alam ciptaan Tuhan mengalami kerusakan yang demikian parah.
  • Setiap tahun berbagai jenis tumbuhan dan hewan masuk dalam daftar perlindungan karena hampir punah. Akibatnya perubahan musim kini semakin tidak menentu, kicauan burung jarang ditemukan dialam bebas. Kualitas kesehatan manusia makin berkurang karena polusi dan berbagai limbah. Selain kerusakan alam, kondisi yang paling parah adalah berkaitan dengan penghargaan manusia terhadap manusia lain. Masih ada sebagian orang diperlakukan semena-mena, direndahkan martabatnya, dan sebagainya.
  • Faktor penyebab yang utama : Egoisme dan keserakahan manusia serta sikap tidak peduli terhadap hidupnya sendiri maupun hidup orang lain. Sedikit sekali orang yang berpikir bahwa tindakan yang tidak bijak terhadap ciptaan Tuhan bukan hanya menghancurkan martabat hidup manusia sekarang, melainkan juga menghancurkan generasi mendatang. Dan bahwa merendahkan orang lain sama dengan menghina Sang Pencipta.
  • Kenyataan tersebut seharusnya mengajak orang mempertanyakan diri : Apakah hal tersebut sudah sesuai dengan panggilan kita sebagai Citra Allah ? Dimana letak kesalahan kita sehingga Allah semakin rusak dan hancur ? Apa yang harus kita lakukan dimasa yang akan datang ?
  • Baca Kitab Kej 1 : 26 – 30 “ Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya”
  • Kitab Suci menegaskan bahwa manusia adalah Citra Allah. Sebagai citra Allah manusia dipanggil untuk : beranakcucu dan bertambah banyak, memenuhi bumi dan menaklukkannya, menguasai ciptaan Allah lainnya ( Kej. 1 : 26- 30)
  • Panggilan yang agung itu perlu ditempatkan dalam konteks keselamatan yang dikehendaki Allah sendiri, yakni keselamatan secara utuh dan terpadu (integral), tidak hanya menyangkut dirinya sendiri, tetapi juga erat kaitannya dengan ciptaan Allah lainnya. Oleh karena itu, manusia tidak bisa bersikap sewenang-wenang atas kuasa dan tugas yang diberikan Allah.
  • Kuasa yang diberikan Allah terbatas sifatnya. Manusia tidak bisa menjalankan sesuatu melebihi kekuasaan Allah sendiri. Maka, ukurannya adalah sejauh kuasa itu dijalankan sesuai dengan kehendak Allah. Kuasa itu perlu dijalankan secara bijak dan demi kemuliaan Allah serta kebahagiaan manusia sendiri.
  • Manusia harus menjalankan panggilannya sesuai dengan kehendak Allah yang tampak dalam kesadaran akan hal-hal berikut :
  1. Segala sesuatu berasal dan diciptakan Allah dan terarah pada PenciptaNya
  2. Tiap makhluk memiliki kebaikan dan kesempurnaannya sendiri
  3. Semua makhluk dan ciptaan Tuhan mempunyai ketergantungan satu sama lain dan saling melengkapi secara timbal balik.
  • Prinsip-prinsip dasar diatas sudah selayaknya menjadi landasan bertindak dalam mengembangkan dan melaksanakan panggilan setiap manusia sebagai citra Allah. Tetapi kita prihatin, dalam kehidupan ini sering kali terjadi sebaliknya. Panggilan manusia sebagai citra Allah kerap kali ditemukan bertentangan dengan kehendak Allah sendiri. Egoisme dan keserakahan sering kali lebih menonjol daripada ketaatan kepada Allah.
  • Sikap yang perlu dikembangkan adalah : bertanggungjawab dan berupaya menampilkan kecitraan Allah sendiri sebagai Pencipta dan Pemelihara melalui kata dan perbuatan, bukan dengan sikap yang menghancurkan dan menguasai.

Pelajaran III : Aku Memiliki Kemampuan

  • Setiap manusia pasti mempunyai kemampuan atau potensi yang dikembangkan dalam dirinya, baik berupa bakat atau kemampuan maupun berupa sifat/ karakter atau kebiasaan baik. Maka, tugas setiap orang adalah untuk menemukan kemampuannya.
  • Untuk dapat menemukan kemampuannya, pertama-tama orang harus melakukannya sendiri, tetapi kita sering kali juga membutuhkan bantuan orang lain. Kita perlu mencari informasi dengan bertanya kepada orang yang dekat dengan kita dan sungguh-sungguh mengenal kita.
  • Baca Injil Matius 25 : 14 – 30 tentang “Talenta “
  • Tuhan memberikan kepada setiap orang “Talenta” (kemampuan) sebagai karunia secara berbeda-beda. Tuhan memanggil kita agar mengembangkan talenta itu semaksimal mungkin, sehingga menghasilkan “buah” yang melimpah. Setiap orang harus bertanggung jawab terhadap talenta yang dikaruniakan Tuhan kepadanya.
  • Dalam perumpamaan tentang talenta tersebut, digambarkan ada dua sikap terhadap talenta. Ada orang yang sungguh bertanggungjawab dan mengembangkannya sehingga menghasilkan buah, dan ada juga yang tidak berbuat apa-apa sehingga tidak menghasilkan apa-apa.
  • Perlakuan Tuhan kepada dua sikap tersebut juga berbeda. Kepada mereka yang bertanggungjawab dan mengembangkannya, Allah mengajak mereka berbahagia bersama-Nya. Tetapi kepda mereka yang tidak bertanggungjawab dan tidak mengembangkannya, Tuhan merasa sedih dan dengan terpaksa mengambilnya kembali karena talenta yang dikaruniakannya tidak menghasilkan buah apa-apa.
  • Karena kemampuan kita berbeda-beda, Tuhan menghendaki agar kita bekerja sama dan saling melengkapi satu terhadap yang lain. Jika semua orang mempunyai talenta untuk mengajar, siapa yang menjadi murid? Atau jika semua orang berbakat penulis, siapa yang akan membaca tulisan itu ?  Dengan kata lain, talenta yang kita miliki perlu dikembangkan demi kepentingan bersama.
  • Dari Kitab Suci kita tidak mendapat informasi tentang talenta atau hoby Yesus, tetapi klita menemukan hal ini : Bila mengajar, maka pengajaranya mampu menarik orang untuk bertobat. Pribadinya sedemikian menarik, sehingga kat-katanya dapat membuat orang merasa disapa dan dihargai. Dan masih banyak hal positif lain yang dapat kita temukan dalam kepribaian-Nya. Dengan kata lain, talenta tidak selalu harus diartikan sebagai bakat/ ketrampilan seperti musik, menari dsb. Melainkan segala kemampuan khusus yang denganya kita mampu memperkembangkan diri menjadi pribadi yang utuh serta dapat melayani sesama.
  • Banyak cara untuk mengembangkan kemampuan atau talenta, misalnya :
  1. Melatih diri terus-menerus tanpa takut salah atau gagal
  2. Masuk dalam kelompok atau organisasi bersama orang-orang yang mempunyai bakat dan minat yang sama, sehingga bisa saling mengembangkan
  3. Belajar dan mau bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman.

Pelajaran IV : Kemampuanku Terbatas

  • Setiap orang mempunyai keterbatasan dalam hidupnya. Ada berbagai keterbatasan dalam hidup seseorang, misalnya :
  1. Keterbatasan fisik : cacat, buta dan cacat lainnya.
  2. Keterbatasan kemampuan intelektual : berpikir lambat, susah menganalisa masalah, dsb
  3. Keterbatasan psikologi (sifat/ karakter) : pemalu, bersikap tertutup, ingin menang sendiri, dsb.
  4. Keterbatasan ekonomi : tidak memiliki biaya atau dana
  5. Keterbatasan sistem budaya : larangan untuk merantau, kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang sulit diubah, dsb.
  • Sikap dalam mengahdapi keterbatasan dan akibatnya :
  1. Sikap minder, akibatnya :
    1. Merasa hidupnya sebagai beban, sebab merasa hidupnya kurang beruntung
    2. Sukar bergaul dan menyesuaikan diri dengan orang lain
    3. Iri hati, cemburu, menganggap orang lain lebih beruntung dari pada dirinya
    4. Memandang Tuhan tidak adil terhadap dirinya.
  2. Sifat munafik, akibatnya :
    1. Melakukan segala upaya untuk meutupi kekurangan dengan menghalalkan segala cara. Misalnya : orang yang penakut akan berusaha omong besar bahwa dia sering melihat hatu, menjelekkan teman yang dianggap saingan, agar orang lain lebih dekat dan berpihak kepadanya.
    2. “Menjilat atasan “ dan menekan bawahan.
  • Bagaimanapun juga kedua sikap tersebut pada akhirnya akan merugikan diri sendiri. Kerugian itu antara lain :
  1. Kita akan mengalami kesulitan dalam pergaulan dengans sesama
  2. Kurang disenangi oleh teman-teman
  3. Kurang dilibatkan dalam aktifitas kelompok
  4. Tidak mampu menutupi dan menghilangkan kekuranbgan yang kita miliki, bahkan bisa membuat kekurangan itu semakin besar, dan makin merugikan kita
  • Sikap yang perlu dibangun dan dikembangkan dalam mengahdapi kekurangan :
  1. Kita harus mampu menerima diri sebagai pribadi yang memiliki kekurangan dan yakin bahwa hal itu juga dialami oleh setiap orang
  2. Jangan menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk tidak berkembang atau sukses. Banyak orang cacat dan orang yang tadinya dianggap bodoh bisa meraih sukses dalam hidupnya, bahkan bisa membantu orang lain.
  • Baca Injil Markus 4 : 35 – 41 “Angin ribut diredakan”
  • Ada sikap positif yg dapat kita teladani dari para murid Yesus dalam menghadapi keterbatasannya. Dalam keterbatasannya mereka tidak bersikap minder, munafik, melainkan datang dan meminta kepada Tuhan Yesus (Mrk 4 : 35-41, 6 : 35-44 dan Luk 5: 1-11) mereka yakin bahwa Yesus akan membantu, sehingga mereka bisa keluar dan mengatasi keterbatasannya.
  • Cerita Kitab Suci tersebut membuat kita semakin diteguhkan untuk saling membantu dan bekerja sama dalam keterbatasan masing-masing demi saling melengkapi dan mengembangkan diri.
  • Maka cara mengatasi keterbatasan selain mencoba berlatih dan bertanya pada orang lain, ternyata kehadiran Tuhan menjadi penting. Dan bagi kita yang hidup dijaman sekarang ini bisa menempuhnya dalam doa penuh iman.

Pelajaran V : Syukur atas Hidup

  • Umumnya, orang mampu bersyukur saat mendapatkan kegembiraan atau keberhasilan atau hal-hal yang menyenangkan dirinya. Tentu saja hal ini sangat tergantung dari pandangan dan sikap orang terhadap kehidupan.
  • Ada berbagai pandangan dan sikap terhadap hidup, antara lain :
  1. Hidup ini beban berat atau kutukan

Biasanya, pandangan ini muncul dari orang-orang yang dalam hidupnya banyak mengalami kegagalan, kekecewaan, bencana, atau penderitaan.

  1. Hidup sebagai takdir

Hidup manusia seolah-olah bagaikan wayang, dimana manusia hanya melakukan sesuatu karena digerkakan, diperintahkan oleh Sang Pencipta. Hidup manusia tergantung sepenuhnya pada hidupnya. Pandangan ini menumbuhkan sikap cepat pasrah menyerah terhadap kegagalan, tidak kreatif untuk mengisi dan mengembangkan hidup. Ia bersikap menunggu dan tiak proaktif

  1. Hidup ini “Seni”

Hidup ini sungguh indah karena mengandung keanekaragaman warna kehidupan ; ada suka, ada duka : ada gagal, ada berhasil : ada pahit, ada manis. Semuanya. Ada dan justru membuat menjadi indah untuk dijalani. Pandangan ini menumbuhkan sikap kreatif dan mencari terobosan agar hidup ini menjadi enak. Ia tidak cepat puas atas keberhasilan atau terlena dalam kegembiraan, karena ia sadar bahwa pada suatu saat bisa saja kegagalan dan kesedihan akan muncul. Sebaliknya, ia tidak cepat larut dalam keputusaan dan terpuruk dalam kegagalan, karena ia yakin pada suatu saat dan tentu saja melelui kerja keras akan ada keberhasilan dan kegembiraan bisa diraih.

  • Baca Injil Lukas 17 : 11-19, tentang “Kesepuluh Orang Kusta”
  • Dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan ternyata hanya satu orang yang kembali untuk bersyukur. Kebetulan orang itu adalah orang Samaria, orang yang selama ini oleh orang Yahudi dianggap Kafir (tidak beriman kepada Allah). Tetapi justru ia melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Ia bersykur kepada Allah karena melalui penyembuhan yang dialaminya, ia mampu merasakan kehadiran Allah yang menyelamatkan.
  • Banyak cara untuk bersyukur misalnya :
  1. Memuliakan Allah lewat doa atau ibadat, baik secara pribadi maupun bersama.
  2. Menolong sesama yang menderita.
  3. Berusaha hidup lebih baik.
  4. Memelihara kehidupan itu sendiri, misalnya dengan menjaga kesehatan, kebersihan, menjauhi obat-obat terlarang
  5. Menjaga kehidupan orang lain, seperti yang dilakukan Ibu Theresa yang menolong orang-orang miskin dan terbuang.
  • Membiasakan bersyukur atas peristiwa hidup, baik suka maupun duka.

Pelajaran VI : Aku dicptakan baik adanya sebagai Perempuan atau Laki-laki

  • Perbedaan laki-laki permpuan paling mudah dikenali melalui hal-hal yang sifatnya fisik-biologis, terutama melalui perbedaan organ kelamin, tetapi juga dari kepribadian pd umumnya dimiliki masing-masing orang dalam wujud sikap, kebiasaan atau karakter. Tetapi untuk yang terkhir ini, tidak bisa disamaratakan (digeneralisasi) begitu saja. Contoh : mudah meneteskan air mata bukan hanya dimiliki wanita/ permpuan, sebaliknya sikap tegas dan keras tidak hanya dimiliki kaum laki-laki.
  • Laki-laki dan perempuan masing-masing mempunyai keindahan dan kelebihan yang tidak dimilki oleh lainnya.
  • Baca kitab Kejadian 1 : 26-30 “ Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya “
  • Sejak semula, Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Masing-masing dilengkapi dengan kebaikannya dan keindahannya. Dan semuanya itu baik adanya. Allah memberkati dan mengasihi keduanya. Hal itu menandakan bahwa laki-laki maupun perempuan begitu berharga di mata Allah dan keberadaan perempuan dan laki-laki sangat berarti.
  • Hidup sebagai permpuan atau laki-laki merupakan anugerah Allah. Kita patut bersyukur karena Allah mempunyai maksud khusus dengan menciptakan kita sebagai laki-laki atau perempuan. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi dan mengembangkan satu terhadap yang lain. Dengan kata lain, laki-laki dan perempuan bersifat komplementer (Kej 2 : 18-25). Mereka saling membutuhkan dn saling tergantung satu sama lain. Laki-laki tidak dapat hidup tanpa perempuan dan sebaliknya perempuan tidak bisa hidup tanpa laki-laki.
  • Setiap laki-laki atau perempuan dipanggil untuk mengembangkan dirinya sebagai laki-laki dan sebagai perempuan menuju kesempurnaannya sebagaimana dikehendaki Allah.

Pelajaran VII : Perempuan dan laki-laki sederajat.

  • Praktek perlakuan tidak sama (tidak sederajat) antara perempuan dan laki-laki masih sering terjadi dalam masyarakat, walaupun hal tersebut tidak lagi terjadi dalam semua bidang kehidupan. Dalam bidang pemerintahan hampir sebagian besar dikuasai kaum laki-laki. Tetapi dalam bidang lain perempuan akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan laki-laki.
  • Kesederajatan antara perempuan dan laki-laki bukan soal persentase keterwakilan dalam pekerjaan, dalam tugas pemerintahan, dan sebagainya, tetapi lebih menyangkut pemberian kesempatan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan diri seluas-luasnya tanpa kekangan. Hal itu berarti memberi kemungkinan yang sama kepada laki-laki dan perempuan untuk memiliki dan mengungkapkan ide, gagasan, dan kreatifitasnya demi pengembangan diri dan sesamanya.
  • Banyak hal bisa dilakukan untuk mengembangkan kesetaraan/ kesederajatan perempuan dan laki-laki. Misalnya, mulailah menghargai bahwa masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, melibatkan seseorang dalam kegiatan tertentu sesuai dengan kemampuan tanpa memandang laki-laki atau perempuan.
  • Yesus hidup dalam masyarakat Yahudi dimana kaum perempuan menjadi warga masyarakat kelas dua dalam tatanan masyarakat.  Pada masa itu kaum perempuan Yahudi banyak mendapat perlakuan tidak adil.
  • Beberapa kasus dalam Kitab Suci memperlihatkan hal itu. Antara lain : perempuan yang kedapatan berbuat dosa dihakimi secara sepihak oleh orang banyak tanpa melihat bahwa kaum laki-laki juga berdosa (Yoh 8 : 2-11). Peraturan-peraturan yang diberlakukan dalam pertemuan-pertemuan jemaat menunjukkan betapa kaum perempuan terpinggirkan, kurang diberi tempat (I Kor 14 : 26-40, ! tim 11 – 14)
  • Yesus adalah pribadi yang sangat menghargai dan membela kaum piainah secara manusiawi (lihat Yoh 8 : 2 – 11 ) Yesus juga memuji seorang perempuan Kanaan yang percaya (lihat Mrk 15 :21-28) dan menempatkan contoh seorang janda miskin yang memberi sumbangan di bait Allah sebagai teladan dalam kejujuran di hadapan Allah. Ia selalu berjuang agar tercipta suatu masyarakat dimana laki-laki dan perempuan sederajat/ setara.
  • Sikap dan tindakan Yesus itu dilandasi oleh Pemahaman-Nya bahwa baik laki-laki maupun perempauan sama di mata Allah karena Allah sendiri telah menciptakan mereka sebagai citra Allah yang saling membutuhkan. Karena saling membutuhkmaka antara laki-laki dan peremapuan tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Pelajaran VIII : Seksualitas sebagai anugerah Allah.

  • Perbedaan antara Permpuan dan laki-laki dapat dilihat dalam segi-segi berikut :
  1. Perbedaan Tubuh

–          Perempuan umumnya tidak terlalu tinggi dibandingkan laki-laki, tetapi tubuhnya lebih berisi, mukanya bulat dan lembut, karena tulang-tulang dan dagingnya ditutupi lemak yang lunak. Pinggulnya lebih besar dari bahunya. Buah dadanya menjadi besar ketika ia bertumbuh menjadi remaja atau dewasa, kulitnya halus.

–          Laki-laki umunya lebih tinggio dari perempuan. Tulang-tulangnya lebih besar dari pinggulnya, kulitnya dan ototnya lebih padat. Bahunya lebih besar dari pinggulnya, kulitnya lebih kasar dari perempuan, dan lebih banyak ditumbuhi bulu

  1. Perbedaan organ kelamin

Perbedaan yang terdalam yang menjadikan seorang perempuan menjadi sungguh perempuan dan laki-laki menjadi sungguh laki-laki terletak pada perbedaan organ kelamin dan fungsinya masing-masing. Organ kelamin ini mulai bekerja sungguh-sungguh dan mulai disadari ketika remaja mulai memasuki usia 12 tahun. Pada masa anak-anak, mereka bisa bergaul dan tanpa perasaan apa-apa. Tetapi mulai memasuki usia SMP, pergaulan dengan lawan jenis mulai terbatas, ada perasaan malu, ada kalanya ada perasaan tertarik pada lawan jenis., bahkan secara bilogis ada perasaan “terangsang” ketika melihat lawan jenisnya.

  1. Organ kelamin perempuan

–          Organ kelamin contohnya : indung telur, saluran telur, kelentit, rahim (kandungan), Vagina, selaput dara.

Organ kelamin perempuan lebih rumit dibandingkan dengan organ kelamin laki-laki. Salah satu bagian organ kelamin yang paling penting adalah indung telur yang fungsinya menyiapkan, mematangkan, melepaskan sel telur  dan membuat hormon-hormon wanita. Hormon tersebut adalah hormon Estrogen dan hormon Progesteron, hormon ini mulai dihasilkan oleh sel telur pada usia 11 tahun. Hormon tersebut berfungsi membuat diri anak perempuan makin berkembang indah antara lain : pipi, lengan, paha menjadi indah dan lembut. Buah dada mulai berkembang, tumbuh bulu-bulu halus di sekitar ketiak dan organ kelamin. Dengan ini naka perempuan tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan menarik.

–          Pada saatnya indung telur akan menghasilkan sel telur. Keadan ini disebut masa subur. Sel telur yang sudah matang akan menuju kandungan atau rongga rahim dan siap dibuahi oleh sel jantan dari laki-laki. Tetapi kalau tidak dibuahi akan mati dan takberguna lagi, dan secara otomatis akan keluar pada waktunya. Pada saat itulah seorang gadis mengalami “Menstruasi”, “Datang bulan”. Karena kejadian – kejadian yang mengagumkan dalam dirinya anak perempuan itu, maka pada dasarnya secara fisik remaja SMP sudah siap menjadi “calon Ibu”. Tetapi dari segi lain ia mungkin belum siap.

–          Proses perkembangan dan fungsi organ kelamin tersebut sangat mempengaruhi fungsi otak dan sekaligus mempengaruhi aktifitas remaja putri. Pada umumnya, gadis remaja yang dalam masa subur biasa tampak indah cantik, dan aktifitasnya penuh semangat. Sebaliknya, menjelang saat menstruasi tiba, biasanya gadis remaja tampak gelisah, merasa lemas, pusing, kadang-kadang mudah menjadi emosional. Siklus ini akan menjadi terus-menerus secara periodik teratur.

  1. Organ kelamin laki-laki

Antara lain : kandung air mani, kelenjar prostat, batang zakar, saluran air mani, anak buah pelir, dan buah pelir.

–          Salah satu bagian organ kelamin laki-laki yang terpenting adalah buah pelir. Organ buah pelir ini semacam pabrik yang memproduksi air mani (sel Jantan) dan hormon kepriaan (hormon testosteron). Hormon tersebut berfungsi menumbuhkan dirinya menjadi laki-laki yang ditandai dengan tumbuhnya kumis, perubahan suara, tumbuh bulu-bulu disekitar ketiak dan alat kelamin, kaki dll.

–          Remaja laki-laki menghasilkan dalam buah pelirnya berjuta-juta sel jantan. Bila sel jantan ini sudah matang, ia akan dikeluarkan melalui zakar/penis. Jika sel jantan ini bertemu dengan sel telur (melalui hubungan intim suami istri) akan mengakibatkan kehamilan pada perempuan. Tetapi bila tidak ketemu dengan sel telur, ia akan keluar dengan sendirinya yang disebut denga  “mimpi basah”

–          Dari segi sensitivitas, umumnya remaja laki-laki akan mudah terangsang melihat lawan jenisnya. Rangsangan tersebut menyebabkan penisnya mudah terangsang dan menegang

–          Seperti pada gadis remaja, segala proses yang terjadi dalam tubuh laki-laki berpengaruh pula pada aktifitas dan perilakunya. Remaja laki-laki biasanya mudah melamun, membayangkan indahnya tubuh perempuan, sehingga konsentrasi terhadap pekerjaan atau tugas kadang-kadang berkurang. Karena sifatnya yang mudah terangsang, ia mulai senang dengan menyentuh lawan jenisnya, misalnya ; mencubit, atau berkeinginan menyentuh bibirnya.

  • Ciri-ciri yang berbeda yang berkaitan dengan jenis kelamin itulah yang disebut SEKS.
  • Sedangkan seksualitas lebih menyangkut penghayatan seseorang untuk berkembang sesuai dengan seks/jenis kelamin yang dimiliki. Kepribadian seorang perempuan berkembang sesuai dengan keberadaannya sebagai perempuan dan sebaliknya
  • Dengan demikian seks dan seksualitas berbeda walaupun berkaitan satu deng yang lain.

Perbedaan mendasar laki-laki dan perempuan dalam hal Rohaniah :

  1. Perbedaan perasaan
  2. Perbedaan berpikir
  3. Perbedaan dalam pengahayatan seksualitas
  4. Perbedaan dalam hal tindakan

Baca kitab kejadian 1 : 26-28 “Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya”

+  Sejak semula Allah menciptakan seisi dunia dengan baik adanya.

+  Dari semua ciptaan Tuhan manusia adalah ciptaan yang  paling  luhur karena diciptakan sebagai citra Allah (kej 1:26-27) yang diberi kuasa atas makhluk-makhluk lain. (kej 1 :27)

+  Sebagai citra Allah manusia diberi anugerah dan tugas untuk memelihara dunia seturut kehendak Allah. Manusia yang diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan sama-sama diberkati oleh Tuhan dan sejak awal pembentukkannya sudah ditandai dengan adanya ciri-ciri yang khusus/ unik. Seksualitas merupakan suatu anugerah Allah yang patut disyukuri, keindahan seksualitas justru tampak dlam keteraturan dan koodinasinya yang luar biasa.

Pelajaran IX : Penghayatan Seksualitas yang benar.

  • Baca I Korintus 6 :13-20 “ Nasihat terhadap percabulan”
  • Baca Keluaran 20 :14 “ Firman keenam “ Jangan berzinah”
  • Pengertian seksualitas tidak tepat bila hanya semata-mata dikaitkan  dengan maslah-masalah seks antara laki-laki dan perempuan.
  • Seksualitas merupakan anugerah Allah yang luhur yang harus dihayati secara baik dan digunakan sesuai dengan kehendak Allah sendiri. Tubuh kita telah discikan Allah agar melalui tubuh kita pula kita dapat memuji dan memuliakan Allah.
  • Dalam 1 Kor 6 : 13b-20 dikatakan bahwa tubuh kita adalah bait Allah Roh Kudus. Tubuh kita merupakan sarana kehadiran Allah, dan sekaligus sarana kita untuk mewujudkan kehendak Allah.

Pelajaran X : Persahabatan.

  • Tidak seorang pun mampu hidup sendiri, ia selalu memmerlukan orang lain, itulah sebabnya manusia disebut maklhuk sosial.
  • Relasi saling membutuhkan itu tampak dalam wujud yang beraneka ragam. Ada yang semata-mata terbatas pada hubungan timbal balik, sperti orang di pasar: atau hubungan dalam pekerjaan antara buruh dan majikan, ada pula dalam wujud persahabatan.
  • Banyak orang berteman, tetapi tidak bersahabat. Hubungan persahabatan biasanya lebih kental dibandingkan dengan pertemanan biasa.
  • Hubungan yang kental dan mendalam itu bisa juga hancur oleh berbagai sebab : misalnya ketidakjujuran, egoisme, mencari keuntungan diri, tidak setia, sikap pura-pura dsb.
  • Baca 1 Samuel 18 : 1-4 “Daud dan Yonatan dan 1 Samuel 20 : 1-43
  • Sikap Yonatan patut dipuji. Ia tidak merasa persahabatanya dengan Daud harus hancur gara-gara hubungan antara temannya (Daud) dan ayahnya kurang harmonis. Ia memandang persahabatan tidak bisa dicampuradukkan dengan sikap mendukung atau tidak mendukung kepada ayahnya.
  • Yonatan berupaya jujur terhadap Daud. Ia berani mengatakan segala sesuatu agar sahabatnya selamat, termasuk keberanian menceritakan sikap ayahnya kepada sahabatnya itu. Semua itu dilakukan tanpa pamrih. Padahal, Yonatan adalah Putra Mahkota dan Daud bisa menjadi saingannya.

Pelajaran XI : Persahabatan sejati.

  • Baca Sirakh 6 : 5-17 “tantang Persahabatan”
  • Persahabatan sejati tidak dibangun demi kesenangan pribadi dan untuk yang sesaat saja. Persahabatan sejati adalah persahabatan yang dilandasi iman akan Allah yang lebih dahulu mengasihi dan menjadi sahabat manusia (Sirakh 6 : 5-17)
  • Gambaran sahabat sejati paling nyata adalah dalam pribadi Yesus Kristus. Ia telah membuktikan diri sebagai sahabat semua orang, terutama mereka yang hidup tanpa harapan, yang hidup menderita, yang hidup dikucilkan. Ia hidup di tengah dan bersama mereka, merasakan apa yang mereka rasakan.
  • Yesus berani menjadi “tumbal” atas perjhuangan-Nya mengangkat harkat dan martabat mereka di mata sesama dan dimata Allah. Yesus adalah sahabat sejati, sebab ia berani berkurban untuk sahabat-sahabat-Nya bahkan dengan mnyerahkan nyawa-Nya sendiri (Yoh 15: 13-15)
  • Kita dapat mencontoh pengikut Kristus yang menjadi sahabat sejati bagi sesamanya, misal : Pater Damian dari Pulau Molokai yang menolong orang kusta sampai-sampai ia sendiri meninggal karena tertular kusta. Ibu Theresa dari Calcuta yang menolong dan membantu orang-orang miskin, orang sakit, tersingkir dan terbuang.
  • Banyak cara mengembangkan persahabatan Sejati misalnya :
  1. Berusaha mengenal secara mendalam sang sahabat, sehingga bisa sehati, sejiwa, memahami harapan, kesulitan, kegembiraan, dan kesedihannya agar dapat membatu secara tepat.
  2. Berusaha untuk hormat, percaya dan mencintainya tanpa pamrih.
  3. Refleksi dan berdoa, agar apa saja yang kita lakukan atau dilakukan sahabat kita sesuai dengan kehendak Allah.

Pelajaran XII : Pacaran.

  • Rasa tertarik pada lawan jenis merupakan bagian dari proses pertumbuhan remaja menuju kedewasaan. Setiap orang akan atau pernah mengalaminya. Rasa tertarik itu bahkan diberikan oleh Allah sendiri. Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan agar saling tertarik, agar dengan demikian mereka saling membantu mengambangkan diri.
  • Tetapi, rasa tertarik itu perlu ditata. Itulah sebabnya, kita mengenal adanya tahap-tahap ketertarikan seseorang apda lawan jenisnya. Tahap-tahap itu adalah :
  1. Mulai pergaulan biasa. Waktu masih kecil, orang tanpa malu bisa bergaul dengan siapa saja, tanpa “perasaan apa pun”, semuanya itu berjalan wajar.
  2. Mulai remaja, selain bergaul dengan siapa saja, ada diantaranya yang mulai tertarik secara khusus pada lawan jenisnya. Ia mulai naksir, ia mulai bersahabat secara khusus, bahkan sampai yang disebut pacaran.
  3. Setelah dewasa, ketertarikan atau pacaran itu akan lebih diarahkan menuju jenjang perkawinan.
  • Berpacaran tentu saja merupakan hak setiap orang. Tetapi, setaip orang perlu secara bijaksana menentukan kapan ia akan mulai berpacaran. Sebab, berpacaran yang tidak terarah  dan tidak pada tujuannya bisa mendatangkan bencana yang merugikan, tidak hanya diri kita sendiri atau sang pacar, melainkan juga keluarga, bahkan masyarakat. (Ingat kasus Nina pada kisah dalam buku)
  • Masa berpacaran bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain : mengenal kepribadiannya, kebiasaannya, lartar belakang keluarganya, pendidikannya, dsb. Dengan mengenal pacar secara sungguh-sungguh, diharapkan kelak bila sampai menikah, mereka akan menjadi pasangan yang berbahagia, yang tidak banyak mengalami masalah atau konflik dalam kehidupan rumah tangga mereka.
  • Baca Injil Lukas 14 : 28-34 “segala sesuatu harus dilepaskan untuk mengikuti Yesus”
  • Agar mampu menyelesaikan suatu pekerjaan, seseorang harus memiliki persiapan yang cukup, seperti hal nya seseorang yang akan mendirikan suatu menara (Luk 14 : 28-34)
  • Dalam mengikuti Yesus juga ada tuntutan-tuntutan khusus, misalnya adanya persiapan, adanya kesediaan untuk lepas dari berbagai keterikatan ataupun kepentingan diri sendiri, ada kesediaan mendengarkan, ada kesediaan untuk mengikuti ajaran-Nya dsb.
  • Setiap pengikut Yesus juga diharpkan dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan tersebut dalam hidupnya sehari-hari, termasuk ketika memasuki masa pacaran.
  • Masa pacaran perlu dilalui secara bertanggungjawab. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa bersatu dengan Allah, agar Allah sendiri membimbing hubungan kita dengan sang pacar. (SBY)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: