Materi Pelajaran Agama Katolik Sekolah Menegah Pertama (SMP) Kelas IX

Pelajaran I : Allah Berkehendak Menyelamatkan Semua Orang

  • Kita telah melihat bersama pengalaman kasih yang telah dialami oleh seorang wanita yang ditolong oleh Suster  Bernarda. Tindakan Suster Bernarda telah membawa keselamatan bagi wanita yang ditolongnya. Dari tindakan Suster Bernarda tersebut kita dapat melihat karya Allah yang menyelamatkan.
  • Allah menyapa dan menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hidup kita sehari-hari. Orang-orang lain menjadi sarana bagi kita dalam merasakan kebaikan Allah yang menyelamatkan.
  • Contoh-contoh konkret tanda kasih Allah melalui orang lain tampak dalam :
  1. Tindakan suster Bernarda yang sedia menolong wanita yang terlantar seperti cerita.
  2. Tindakan para suster pengikut Ibu Teresa yang melayani orang-orang yang kelaparan, sakit dan dalam situasi menjelang ajal.
  3. Tindakan para dokter dan perawat (paramedis) yang berusaha mengobati dan menyembuhkan orang-orang sakit.
  4. Tindakan para pekerja sosial yang membantu orang-orang yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
  5. Tindakan orang tua yang mendidik, membimbing, dan merawat kita sejak kecil.
  6. Pertolongan orang yang tidak kita kenal ketika kita mengalami kecelakaan di tengah jalan.
  • Selain melalui orang-orang yang memperhatikan kita tanpa memandang latar belakang, suku, dan agama (seperti yang dilakukan Suster Bernarda kepada wanita yang ditolongnya), Tuhan juga menunjukkan tanda kasih-Nya melalui alam raya. Alam semesta yang maha luas dan indah ini memperlihatkan keagungan dan kasih Tuhan pada kita.
  • Baca Injil Matius 5 : 43-48 “Kasih Allah”
  • Perikope Kitab Suci di atas  menyatakan tentang kasih Allah kepada semua orang. Allah “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (ayat 45). Kasih Allah tidak membeda-bedakan . keselamatan diperuntukkan bagi semua orang.
  • Yesus menjadi tanda kasih Allah. Yesus menjadi puncak kasih Allah bagi manusia. Kehadiran Yesus Kristus menjadi tanda kehadiran Allah sendiri dalam usaha-Nya menyelamatkan manusia. Barangsiapa mengenal Yesus, ia mengenal Allah sendiri. Dalam diri Yesus “seluruh kepenuhan Allah berkenan diam dan tinggal dalam Dia” (Kol 1 : 19). Dalam diri Yesus, Allah telah menjadi manusia. Allah berbicara kepada manusia menurut cara manusia. Kehadiran Allah menjadi penggenapan dari rencana keselamatan Allah bagi manusia.
  • Seperti halnya Yesus menjadi tanda kasih Allah yang menyelamatkan, maka kitapun dapat menjadi sarana bagi keselamatan orang lain. Kesediaan kita untuk menolong orang lain tanpa pandang bulu dan mengasihi orang lain tanpa kecuali dapat menjadi tanda syukur kita akan keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada kita.
  •  (Berbagai agama bukan kristen) Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini diantara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya-kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam. Adapun agama-agama, yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan. Demikianlah dalam hinduisme manusia menyelidiki misteri ilahi dan mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta dengan usaha-usaha filsafah yang mendalam. Hinduisme mencari pembebasan dari kesesakan keadaan kita entah melalui bentuk-bentuk hidup berulah-tapa atau melalui permenungan yang mendalam, atau dengan mengungsi kepada Allah penuh kasih dan kepercayaan. Buddhisme dalam pelbagai alirannya mengakui, bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan jiwa penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau ? entah dengan usaha sendiri entah berkat bantuan dari atas ? mencapai penerangan yang tertinggi. Demikian pula agama-agama lain, yang terdapat diseluruh dunia, dengan pelbagai cara berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia, dengan menunjukkan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kaidah hidup maupun upacara-upacara suci. Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni? jalan, kebenaran dan hidup? (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya [ ]. Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka. Nostra Aetate Art. 2

Pelajaran II: Beragama

  • Hampir seluruh penduduk dunia menganut agama tertentu. Bagi manusia agama menjadi bagian hidupnya.
  • Ada banyak alasan yang membuat manusia beragama, antara lain :
  1. Untuk menemukan rasa aman ketika menghadapi kesulitan di dalam hidup
  2. Untuk memperoleh arti hidup
  3. Untuk pedoman dalam menentukan tindakan yang baik.
  • Kenyataan adanya sebagian besar penduduk dunia menganut agama tertentu mennjukkan bahwa agama bagi manusia memang bermakna. Manusia beragama karena mempunyai kerinduan untuk menggantungkan hidupnya kepada Yang Mahakuasa. Agama menjadai sarana bagi manusia untuk mengenal Tuhan dan membangun hubungan dengan-Nya.
  • Didalam masyarakat saat sekarang, tidak semua umat beragama melaksanakan tindakan keagamaan dengan alasan yang benar. Banyak hal yang memprihatinkan yang terjadi di dalam hidup keagamaan. Ada orang menjalankan praktek hidup keagamaan hanya menekankan hal-hal lahiriah. Baginya, beragama dianggap cukup kalau dia mencantumkan identitas agama yang dianutnya di dalam KTP ataupun menjalankan kegiatan-kegiatan keagamaan layaknya orang-orang lain yang beragama. Tindakan lain yang menekankan aspek lahiriah juga tampak ketika umat beragama sekedar menjalankan ajaran-ajaran agama. Beragama bagi mereka disamakan dengan ketaatan pada perintah-perintah agama.
  • Beragama yang benar tidak dapat disamakan dengan tindakan pergi ke Gereja, Masjid, Pura, Vihara, secara rutin. Beragama tidak cukup hanya menjalankan ajaran agama sebatas mengikuti aturan-aturan dalam agamanya untuk menghindari hukuman (dosa) dan memperoleh pahala.
  • Hidup beragama sesungguhnya harus didasarkan pada dorongan dari dalam untuk mencari kebenaran. Beragama harus dengan motivasi untuk membangun hubungan yang semakin mendalam dengan Tuhan dan sesama. Beragama yang benar artinya menjadikan Agama sebagai pedoman hidup sehari-hari.
  • Pandangan Gereja tentang beragama dan hidup keagamaan dalam Nostra Aetate Artikel 1
  • Manusia menganut agama tertentu untuk emncari jawaban yang terakhir tentang makna hidupnya. Menurut Nostra Aetate art.1, manusia mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhaadap rahasia tersembunyi di sekitar keadaan hiudpnya. Rahasia tersembunyi di dalam hidupnya telah menggelisahkannya secara mendalam. Manusia bertanya tentang asal dan tujuan hidupnya, makna kematian, makna sakit dan penderitaan, dan berbagai hal lain yang ingin dipahaminya. Manusia ingin memperoleh kepastian jawaban atas rahasia kehidupan yang tersembunyi tersebut.
  • Masih dalam artikel yang sama, Gereja Katolik berkeyakinan bahwa agama-agama mempunyai tujuan akhir yang sama, yakni Allah. Dengan agama, manusia tidak berhenti dalam pencarian jawaban atas persoalan yang paling dasariah, yang dihantar menuju Allah. Melalui agama, Allah dikenal sebagai Pencipta, Penyelenggara dan Tujuan hidup manusia. Manusia beragama untuk memperoleh keselamatan sejati dari Allah.
  • Beragama yang benar berarti berusaha mengenal dan menjalin hubungan yang akrab dan mendalam dengan Allah dan sesamanya. Hidup keagamaan bukan hanya memperhatikan hal-hal lahiriah, melainkan juga yang batiniah. Dengan demikian, agama tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dalam mencari popularitas, mendapatkan kedudukan, meraih keuntungan dsb. 

Pelajaran III : Beriman

  • Tuhan senantiasa hadir menyapa manusia. Tuhan menghibur, membimbing, dan menguatkan kita, baik dalam suka maupun dalam duka, baik dalam kepastian maupun keraguan, baik dalam untung maupun malang. Tuhan setia menyertai manusia.
  • Wahyu Tuhan artinya sapaan, penyertaan, ataupun tawaran dari Tuhan kepada manusia. Hal-hal yang dinyatakan Tuhan antara lain : Diri-Nya sendiri, rencana-Nya untuk menyelamatkan manusia. Wahyu Tuhan dapat kita ketahui melalui : ciptaan-Nya, diri manusia, peristiwa hidup yang dialami manusia, Kitab Suci, dan puncak Wahyu Tuhan yakni Yesus Kristus sendiri.
  • Manusia dapat menanggapi wahyu Tuhan dengan Iman. Maka, beriman berarti menyerahkan diri secara total kepada kehendak Tuhan. Bila wahyu Tuhan tidak ditanggapi oleh manusia, maka tidak ada artinya. Sebaliknya, manusia tidak mungkin beriman tanpa pewahyuan Tuhan sendiri.
  • Baca kisah Santo Hieronimus Emiliani (1481-1537) “penuh Perhatian pada Anak terlantar”.
  • Baca Kitab Yak 2 : 14 – 26 “ Iman dan Perbuatan”.
  • Menjalani hidup dengan benar merupakan manfaat dari hidup beriman kepada Tuhan. Manfaat beriman yang lain adalah : tidak was-was atau khawatir akan hidup yang sedang dijalani, dekat dengan Allah, sehingga merasa bahagia, aman, damai, tenang, dan optimis dalam menatap hidup. Dengan beriman kita merasa bahagia, tenang, damai, dan tabah karena adanya keyakinan akan pertolongan Allah. Orang beriman memiliki yang memiliki hubungan yang baik dengan Allah akan senantiasa beroleh kekuatan dan keberanian untuk menhadapi masalah-masalah hidup.
  • Bagi orang yang menjalani hidup tanpa iman akan diliputi oleh : rasa takut, geliah, tidak mempunyai harapan (cepat putus asa), cenderung mencari jalan pintas untuk menyelesaikan persoalan hidup.
  • Hidup beriman yang mendalam oleh Rasul Yakobus disebut sebagai hidup beriman dalam kesatuan antara ibadah dan perbuatan. Dalam Yak 1: 26 di katakan “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya, maka sia-sialah ibadahnya”. Menurut Rasul Yakobus, hubungan dengan Allah yang telah mengasihi kita seharusnya menyadi nyata dalam kasih kepada sesama.
  • Hubungan dengan Allah dibangun oleh orang beriman melalui ibadah, sedangkan hubungan dengan sesama ditampakkan dalam tindakan nyata. Bagi Rasul Yakobus, orang beriman tidak cukup hanya menjadi pendengar dan penerima firman Allah, melainkan ia harus menjadi pelaku firman. (Yak 1: 22). Dari pandangan Rasul Yakobus ini nyatalah bahwa kalau seseorang beriman maka dia akan berbuat kasih kepada sesamanya. (Yak 1: 19-21)
  • Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia juga menekankan hidup dari iman menjadi ciri orang yang benar (Gal 3 : 11). Menurut Santo Paulus sangatlah penting orang hidup dari iman. Orang yang hidup dari iman akan diberkati (Gal 3: 9). Orang yang hidup dari iman mengalami hubungan yang baru dengan Allah.
  • Bagi Paulus, Abraham menjadi contoh bagi semua orang beriman.
  • Dari pendangan Santo Yakobus dan Santo Paulus, menjadi lebih jelas bagi kita bahwa beriman kepada Allah itu sangat penting. Beriman berarti kita mempercayakan hidup kita kepada Allah.

Pelajaran IV : Beriman Kristiani

  • Bacalah Injil Matius 7: 21-23 dan Lumen Gentium Artikel 14.
  • Orang beriman Kristiani Sejati adalah orang yang hidup dan tindakannya diwarnai dan dimotivasi oleh Iman Kristianinya, bukan sekedar karena alasan keagamaan yang lahiriah. Seseorang yang beriman Kriatiani adalah seorang yang religius, yaitu orang yang selalu menyadarkan hidupnya pada Kristus dan meyadari bahwa seluruh peristiwa hidupnya merupakan karya Kristus yang menyelamatkan.
  • Adapun aspek-aspek hidup beriman Kristiani meliputi :
  1. Pengalaman Religius         : sebagai orang Kristiani adalah pengalaman dimana manusia sungguh menghayati karya dan kebaikan Allah yang berpuncak dalam diri Yesus Kristus, dan karena pengalaman itu manusia sampai pada kemauan bebas untuk menyerahkan diri kepada Kristus.
  2. Penyerahan Iman              : adalah jawaban atas Wahyu Allah yang telah berkarya. Dengan adanya penyerahan iman, orang tidak saja mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan tetapi juga mewujudkan tindakan atau perbuatannya sesuai dengan ajaran Yesus. Dalam Mat 7:21, Yesus bersabda, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku : Tuhan, Tuhan ! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga”.
  3. Pengetahuan Iman               : seorang Kristiani dituntut terus menerus untuk semakin mampu mempertanggungjawabkan imannya. Hal inilah yang disebut sebagai Pengetahuan Iman.
  • Umat Kristiani yang dihimpun dalam Gereja Katolik memiliki sejumlah ciri penghayatan hidup beriman yang dipelihara yaitu :

-          Melalui Sakramen Baptis, ia dilahirkan kembali dalam Tuhan dan dilantik menjadi putra-putri Allah.

-          Sebagai orang beriman Kristiani ia mengakui imannya akan Kriatus, menerima dan merayakan sakramen-sakramen sebagai Sarana dimana Tuhan ingin menyelamatkan umat-Nya, dan senatiasa berada dalam pimpinan gembala-gembala Gereja yang dalam hal ini adalah hirarki.

-          Di samping itu, sebagai satu persekutuan ia diharapkan bersatu dalam kasih, doa, pelayanan dan kesaksian (Lumen Gentium Art. 14).

Pelajaran V : Perjuangan Mengembangkan Iman

  • Baca 1 Korintus 9 :24-27, Filipi 1 : 27-31, Lukas 17:6.
  • Seperti halnya kesehatan harus diusahakan dan diperjuangkan, dermikian juga dengan perkembangan hidup beriman. Iman perlu dikembangkan dengan berbagai usaha, karena iman yang kuat akan membuat kita tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Bukan hanya bdan yang sehat, melainkan juga hidup rohani kita kuat. Iman yang berkembang memampukan kita untuk menanggapi kenyataan hidup dengan penuh makna. Dengan hidup beriman mendalam yang kita jalani, maka kitapun dapat mengarahkan perilaku kita secara benar.
  • Orang bisa dikatakan imannya berkembang bila tutur kata serta tindakannya semakin berkenan bagi banyak orang dan tentu saja bagi Tuhan. Pengalaman doa dan kegiatan-kegiatan lainnya dalam memperkembangkan iman, telah memotivasi dirinya didalam berperilaku dan bertindak.
  • Pengetahuan iman tidak selalu ada hubungannya dengan hidup beriman. Ada orang yang memiliki pengetahuan yang luas dan dalam tentang Tuhan dan sering berdoa tetapi perilaku dan tutur-katanya tidak menunjukkan kebaikan. Orang semacam ini pengetahuan imannya banyak, tetapi”Imannya tidak berkembang.” Pengetahuan imannya tidak bermakna dan doa sehari-harinya hanya di bibir saja. Dalam berdoa dia tidak tulus, orang semacam ini biasanya berdoa tidak untuk berhubungan dengan Tuhan tetapi hanya ikut-ikutan atau agar dipuji orang. Doanya tidak dihayati maka doa tersebut juga tidak berdampak dalam hidupnya.
  • Faktor penghambat kegiatan pengembengan iman, antara lain :
  1. Rasa malas dan keinginan bersantai-santai ataupun bermain saja.
  2. Terlalu disibukkan oleh banyak kegiatan lain yang tidak terlalu berguna.
  3. Acara-acara hiburan atau TV yang menarik yang menyita seluruh perhatian kita, acara TV itu jauh lebih menarik daripada doa bersama, pendalaman iman dilingkungan, atau kegiatan gerejani dan kegiatan sosial lainnya.
  • Faktor pendukung kegiatan pengembangan iman, antar lain :
  1. Keinginan memiliki bekal agar mampu memecahkan masalah yang dijumpai dalam hidup sehari-hari, hidup lebih bermutu, mampu berjasa bagi orang lain, dan semakin bijak.
  2. Membaca kisah-kisah yang menarik dari tokoh-tokoh Kitab Suci dari Perjanjian Lama, Misalnya Nuh, Abraham, Yakub, Musa, Gideon, dan sebagainya. Tokoh perjanjian Baru Misalnya Yosef, Maria, Elisabeth, para gembala, tiga sarjana, Yohanes Pembaptis, Matius, Zakheus, Paulus dsb. Kisah-kisah tersebut membuat kita terdorong untuk meneladan mereka. Kita belajar dari mereka bagaimana hidup beriman mereka dikembangkan dan diperjuangkan.
  3. Bacalah pula kisah tokoh-tokoh iman dari zaman modern ini seperti Paus Yohanes XXIII, Ibu Teresa, Albert Zweitzer, dsb.
  • Dari   2 Tim 1 : 14 terungkap : “Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita oleh Roh Kudus yang diam didalam kitra.”

Harta indah kita sebagai orang Kristiani adalah iman yang dianugerahkan kepada kita oleh Roh Kudus. Harta ini perlu dipelihara agar lestari dan berkembang. Usaha mengembangkan iman memang tidak mungkin hanya oleh usaha kita sendiri saja, tetapi kita perlu bantauan dan campur tangan Allah.

Para rasul pun mohon kepada Yesus agar iman mereka bertambah. Rasul-rasul pernah meminta kepada Tuhan : “Tambahkanlah iman kami !” (Lukas 17 :5). Oleh sebab itu, kita tidak usah berkecil hati atau putus asa bila kita merasa betapa tidak mudahnya mengembangkan iman kita masing-masing. Asal kita berusaha dan sekaligus memohon kepada Tuhan, niscaya kita akan mendapatkannya. Bila kita mendapat anugerah iman yang besar, maka hampir tak ada yang mustahil bagi kita seperrti janji Yesus. “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini : Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17 :6).

Pelajaran VI : Iman dan Kebersamaan dalam Jemaat

  • Baca Kisah 2 : 41-47.
  • Iman itu bersifat personal dan sosial artinya iman pertama-tama merupakan hubungan pribadi antara manusia dan Allah.  Selain bersifat pribadi sebagai tanggapan pribadi manusia atas tawaran kasih Allah, iman juga bersifat sosial artinya iman itu diungkapkan dan diwujudkan dalam kebersamaan dengan jemaat.
  • Jadi, pentinglah kita memiliki iamn personal sekaligus iman sosial. Dengan mengembangkan aspek sosial, iman kita akan semakin terlibat pada rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dan membuat kita semakin sosial. Dengan hanya memiliki iman personal, kita mudah menjadi orang yang egois.
  • Bila kita ingin agar iman kita dapat selalu berkembang, maka pentinglah kita mengusahakan hidup bersama secara harmonis dengan semua orang dan dalam jemaat beriman (umat).
  • Sebagai orang beriman, kita mempunyai tanggungjawab pribadi untuk mengembangkan iman kita sendiri. Tetapi karena perkembangan iman kita juga diupayakan oleh umat, maka kita mempunyai tanggung jawab pula untuk ambil bagian dalam mengembangkan iman sesama umat. Kita sebagai pribadi dapat membentu pengembangan iman orang lain dengan bersedia hadir dalam pertemuan-pertemuan umat, antara lain berdoa bersama ataupun pendalaman iman dan kegiatan-kegiatan bersama umat lainnya.

Pelajaran VII : Aku Warga Masyarakat

  • Kata “masyarakat” mempunyai arti yang sangat luas. Menurut ilmu sosiologi, masyarakat merupakan keseluruhan yang konkret historis dari segala hubungan timbal balik antara manusia dan macam-macam kelompok. Masyarakat tersusun menurut macam-macam kelompok, organisasi, dan anggota dengan status dan peranan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, hidup masyarakat harus diatur secara aktif dan adil. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan masyarakat demi perkembangannya.
  • Dalam hidup bermasyarakat, kita mempunyai berbagai macam hak, antara lain : hak untuk hidup, hak untuk mendapat perlindungan, hak mendapat rasa aman, hak untuk mendapat nafkah, hak untuk mendapat kesempatan berkembang, dan hak untuk mendapatkan pendidikan. Kita juga memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat. Kita semua mempunyai hak yang sama dalam hidup bermasyarakat.
  • Kita juga mempunyai sejumlah kewajiban, antara lain : kewajiban menjaga ketertiban umum, memelihara keamanan, mengupayakan kesejahteraan, memelihara kebersamaan dan kerukunan demi keharmonisan hidup bersama.
  • Hak dan kewajiban itu perlu dijalankan secara benar dan bertanggung jawab.
  • Baca Injil Matius 17 : 24-27, Mat 22: 15-22
  • Yesus mengharapkan setiap orang menghargai pemerintah, tetapi tidak melemahkan atau menomorduakan hormat kepada Allah. “Berikan kepada Kaisar yang menjadi hak Kaisar dan berikan kepada Allah yang menjadi hak Allah” (Mat 22 :21)
  • Yesus juga mengajak orang taat membayar pajak (Mat 17 : 27)
  • Semasa hidupnya, Yesus juga tidak pernah mengahsut rakyat untuk bergerak melawan pemerintah.
  • Yesus juga cukup tegas melakukan kritik terhadap pemimpin bangsa-Nya yang tindakannya tidak benar.

Pelajaran VIII : Para Pemimpin Masyarakat

  • Seorang pemimpin adalah orang yang pertama, baik dalam hal pikiran maupun tindakan. Ia juga berada di tengah-tengah untuk menggerakkan atau memotivasi anak buahnya dan manakala anak buehnya bergerak ia juga mampu berada di belakang untuk mendukung dan memberi kekuatan. Pemimpin selalu “tut wuri handayani”. Ia penuh inisiatif untuk menggerakkan dan mendukung anak bauhnya,
  • Para pemimpinyang baik menghasilkan karya-karya mengagumkan karena didukung dengan kerja keras, kedisiplinan dan adar akan peranannya.
  • Bacalah Kitab Keluaran 3 : 3-7, 1 Pet 2 : 13-17, Markus 10 ; 35-44, Yoh  10:11-15
  • Kitab Keluaran 3 : 7-10 menceritakan tentang Musa sebagai pemimpin yang harus hadir di depan bangsanya untuk menampilkan kehadiran Allah yang menyelamatkan.
  • Pemimpin sebagai simbol kehadiran Allah tampak juga dalam kisah-kisah Raja Daud. Allah hadir dalam diri Daud sehingga hampir semua peperangan yang dipimpinnya untuk mengusir musuh bangsanya dimenangkannya. Dalam masa pemerintahan Daud, rakyat mengalami kesejahteraan besar dan sampai sekarangpun masa pemerintahannya selalu dilihat sebagai masa penyertaan Allah yang paling ideal.
  • Pemimpin yang baik menurut Yesus adalah orang yang rela berkorban demi kepentingan banyak orang. Sebaliknya, pemimpin yang lari ketika masyarakat dalam kesulitan dan membutuhkannya adalah pemimpin palsu atau pemimpin gadungan. Orang semacam itu tidak layak menjadi pemimpin masyarakat. Dia hanya ada kalau keadaan menguntungkan dirinya 9dan kelompoknya) dan dia tidak peduli kepada kebutuhan masyarakat banyak.
  • Pemimpin yang baik mengenal dan juga dikenal oleh anak buahnya (rakyatnya), sehingga ia bisa mngetahui kebutuhan anak buahnya (rakyatnya). Dengan demikian, ia bisa pula memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan anak buahnya (rakyatnya)
  • Pemimpin yang baik selalu berusaha untuk berkenan kepada Allah dalam tindakan-tindakannya. Dia selalu berusaha melakukan yang menjadi kehendak Allah dan bukan keinginannya sendiri. Karena dia merasa dikenal oleh Allah, maka dia berani dan tidak ragu-ragu dalam tindakannya, karena yang dilakukannya sesuai dengan kehendak Allah. Ia yakin akan perlindungan dan dukungan Allah dalam usahanya memenuhi harapan dan kebutuhan anak buah atau rakyatnya.
  • Menurut Yesus pemimpin yang terkemuka adalah pemimpin yang menjadi abdi banyak orang dan melaksanakan hal-hal yang dibutuhkan atau diharapkan banyak orang. Jadi, ukuran baik dan tidaknya seorang pemimpin adalah besarnya jasa dan manfaatnya bagi banyak orang atau sejauh pelayanannya dapat dinikmati banyak orang.
  •  Kita, di tempat kita masing-masing, wajib menghormati, menaati dan mendukung pemimpin kita yang sah dan melakukan pemerintahan demi kepentingan orang banyak (rakyat) karena pemimpin yang sah merupakan simbol kehadiran Allah.

Pelajaran IX : Kebebasan yang bertanggung jawab.

  • Baca Gaudium Et Spes Art. 16 da 17,
  • Kebebasan Kristiani bukanlah kebebasan tanpa aturan atau kebebasan yang bertentangan dengan sikap bertanggung jawab. Bertindak semau-maunya, apalagi yang merugikan orang lain “ atas nama kebebasan”, sama dengan menipu diri. Setiap orang Kristen diharapkan untuk memiliki sikap yang sportif dan positif terhadap sesama warga masyarakat, memiliki kasih kepada pimpinan yang emnjamin yang menjamin ketertiban dalam masyarakat.
  • Kebebasan yang bertanggung jawab adalah kebebasan untuk melakukan  sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain sesuai dengan minat dan bakat masing-masing, bukannya kebebasan yang mengakibatkan orang lain menderitra atau terganggu. Kebebasan yanag bertanggung jawab dihayati berdasarkan hati nurani yang benar. Oleh karena itu, kita perlu membina hati nurani terus menerus agar tindakan-tindakan kita senantiasa sesuai dengan kehendak Allah. Bermanfaat bagi sesama dan sekaligus mengembangkan diri kita.
  •  Banyak cara untuk membina hati nurani antara lain : mawas diri, membaca buku rohani, berdoa dan merenungkan kitab suci, bertanya pada orang lain saat mengalami keraguan bertindak, dan mebiasakan diri untuk selalu mengikuti hati nurani dan melaksanakannya.
  • Baca 1 Petrus 2 : 16-17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.353 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: